DENPASAR, balitourismnow.com – Warga Ukraina di Bali memperingati 4 tahun invasi skala penuh oleh Rusia ke Ukraina, Selasa 24 Pebruari 2026. Peringatan tersebut berlangsung di Kantor Konsulat Ukraina Denpasar diawali dengan mengheningkan cipta dalam suasana khusuk.
Puluhan warga Ukraina itu dengan bersamaan datang dari berbagai daerah di Pulau Dewata, baik yang telah lama tinggal ataupun yang baru. Mereka saling bergandengan tangan dalam peringatan yang lebih memfokuskan kepada pentingnya penyelamatan anak-anak itu.
Selain melakukan peletakan karangan bunga, orang-orang yang hadir juga menyalakan lilin dan menempatkan boneka di depan bener bertuliskan Aksi “Masa Kecil yang Dicuri” dampak agresi Rusia mengakibatkan anak-anak tewas, luka, hilang, dideportasi paksa dan pelecehan seksual.
“Meletakan karangan bunga dan menghidupkan lilin itu sebagai symbol, bahwa sekecil apapun semangat itu harus tetap dipertahankan, diteruskan, sehingga memberikan penerangan jalan bagi generasi muda penerus bangsa,” kata Konsulat Kehormatan Ukraina, I Nyoman Astama.
Warga Ukraina yang hadir ada yang sedih, bahkan tidak sedikit matanya berkaca-kaca saat menghidupkan lilin dan meletakan boneka itu. Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan dan menyaksikan penayangan film bertema Anak-anak yang bertajuk “Children in the Fire”.

Peletakan boneka sebagai ekspresi cinta kasih kepada anak-anak yang telah kehilangan masa kanak-kanaknya, masa-masa mereka senang bermain dan ceria menatap masa depan. Perang yang terjadi merampas kebahagiaan mereka untuk bermain, menikmati masa anak-anaknya.
“Empat tahun serangan Rusia ke Ukraina, ini sudah lama sekali. Situasi yang terjadi, bukanlah hal yang sangat baik, bahkan menyedihkan. Karena perang itu, tidak akan ada yang diuntungkan, tetapi malah merugikan terutama bagi warga sipil,” ucap Astama.
Peringatan ini focus pada pentingnya penyelamatan anak-anak sebagai generasi masa depan, dan perempuan yang sangat penting dilindungi. Karena, pada masa perang anak-anak dan wanita menjadi pihak yang menjadi sasaran dan target karena memiliki keterbatasan.
Peringatan ini menjadi suatau momentum untuk melihat kembali pentingnya sumber daya manusia, khususnya anak-anak dan pertempuan untuk bisa berlanjut move on. “Semoga segera bisa diadakan gencatan senjata, agar tercipta perdamaian berkelanjutan,” harap Astama.
Pada kesempatan itu, Astama juga memberikan penekanan kepada warga Ukraina di Bali khususnya, bahwa keberadaan mereka di luar negeri haruslah menjaga persatuan. Sebagai warga, mereka harus tetap memberikan kontribusi kepada negara walaupun berada jauh.
Warga Ukranina yang hidup di luar negeri mesti tetap menjaga persatuan dan kesatuan serta menjaga solideritas antar warga. Semua itu menjadi kunci dan bentuk dukungan kepada pemerintah dan rakyat yang sedang berjuang. Mereka berjuang mengorbankan jiwa dan raganya.
Astama juga mengajak warga Ukraina untuk tetap mematuhi aturan yang berada di Indonesia, khususnya di Bali. Ketentuan atau aturan dari Pemerintah Provinsi Bali harus tetap patuh pada aturan, sehingga tidak menimbulkan masalah.
“Semoga segera berakhir, karena perang tidak akan memberi keuntungana, tetapi justru kesedihan. Saya berharap pertemuan upaya perdamaian yang difasilitasi Amerika Serikat seperti berita di media social pada pertengah tahun, di musim summer itu bisa dilakukan,” harapnya.
Tokoh pariwisata ini mengaku, tidak memiliki data jumlah wisatawan Ukraina di Bali di tahun 2025 dan awal tahun 2026. Pihaknya telah bersurat untuk meminta data terakhir, namun belum ada tanggapan. “Data terakhir itu, hanya tahun 2023 yang ada sebanyak 8.357 orang,” ucapnya.
Aktivitas mereka di Bali sangat beragam. Ada sebagai marketing on line, financial online, perbankan online, dan kebanyaan bergerak dibidang teknologi informasi. “Orang-orang Ukraina itu memang memiliki kelebihan di bidang itu. Mereka memaksimalkan penggunaan teknologi untuk membantu dalam pemberian solusi bagi kehidupan,” sebutnya. [buda]


