Art & Culture

Pameran ‘Tribute to I Dewa Putu Sena 1943–2024’ di ARMA Museum Ubud

GIANYAR, balitourismnow.com – Pameran seni lukis bertajuk “Tribute to I Dewa Putu Sena 1943–2024” ini mengajak publik untuk mengenal lebih dekat karya dan nilai-nilai yang diwariskan oleh I Dewa Putu Sena. Pameran ini menampilkan 22 karya lukisan

Pameran sebagai bentuk apresiasi atas perjalanan panjang seorang seniman yang teguh pada akar tradisinya sekaligus inovatif dalam berekspresi itu dibuka secara resmi oleh Anak Agung Gde Rai, pendiri ARMA Museum, Minggu 20 Juli 2025.

Wakil Menteri (Wamen) Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Giring Ganesha turut memberikan apresiasinya atas karya-karya Dewa Putu Sena. Wamen Giring berkunjung ke ARMA Museum pada 19 Juli 2025, sehari sebelum pameran resmi dibuka.

Wamen Giring menyaksikan secara langsung koleksi karya sang maestro dan menyatakan kekagumannya atas kontribusi besar seniman asal Pengosekan ini terhadap perkembangan seni rupa Bali dan Indonesia.

BACA JUGA:  Wayan Beratha Yasa: Semakin Uzur Semakin Banyak Karya, Dukung Kemajuan Pariwisata Bali

Ini sebuah penghormatan terhadap perjalanan kreatif dan kontribusi besar maestro seni lukis Bali, I Dewa Putu Sena. “Kehadirannya tak hanya memperkaya seni rupa Bali, namun juga memperkuat posisi Pengosekan sebagai pusat perkembangan seni lukis yang diakui dunia,” ucap Gung Rai – sapaan akrabnya.

Karya lukisan yang disajikan merupakan pilihan yang mencerminkan kepekaan artistik beliau terhadap keindahan flora dan fauna, serta pendekatan khas gaya Pengosekan yang I Dewa Putu Sena kembangkan sejak era 1970-an.

Pameran “Tribute to I Dewa Putu Sena 1943–2024” dikurasi oleh I Made Susanta Dwitanaya. Dalam suasana penuh haru dan kekaguman, pameran ini menjadi ruang untuk mengenang dan menghidupkan kembali warisan seni rupa yang telah ditinggalkannya.

Wamen Giring Ganesha berkunjung ke ARMA Museum diterima Anak Agung Gde Rai/Foto: ist

“Dewa Putu Sena adalah seniman rupa dan sekaligus seorang kerawitan yang benar-benar berbakat. Ia menjadi pendobrak dalam perkembangan seni rupa Pengosekan dengan karya-karyanya yang khas flora dan fauna,” papar tokoh Ubud ini.

BACA JUGA:  Aci Tabuh Rah Pengangon di Desa Adat Kapal

Interaksinya dengan seniman asing, seperti Alexander Goetz menghidupkan kreativitas baru yang membuat karyanya diminati hingga mancanegara. Pengaruhnya, bahkan merambah ke Kutuh, Keliki, hingga Sayan—menginspirasi generasi muda saat itu.

“ARMA merasa berkewajiban untuk menjaga dan mengoleksi karya-karyanya sebagai bagian dari sejarah seni rupa Bali,” aku Gung Rai polos.

Director of ARMA Museum, Agung Yudi mengatakan, keinginan untuk menyelenggarakan pameran ini telah lama direncanakan. “Sebagai generasi muda di ARMA, saya melihat sosok I Dewa Putu Sena sebagai tokoh penting yang telah meletakkan dasar kuat bagi seni lukis Pengosekan melalui gagasan-gagasan kreatifnya,” ucapnya.

Agung Yudi kemudian berharap, seni rupa Pengosekan akan terus tumbuh dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda. I Dewa Putu Sena dikenal sebagai pelopor seni lukis bertema flora-fauna dari Pengosekan.

BACA JUGA:  Djakarta Warehouse Project 2025 di GWK, Bukti Bali Sebagai Pusat Festival Musik Dunia

Melalui teknik tradisional seperti ngorten, nyelah, ngabur, nguap, hingga nyenter, ia menghadirkan karya-karya yang harmonis secara warna dan komposisi, sekaligus memperkaya spektrum tema dalam seni lukis Bali yang kala itu didominasi oleh pewayangan dan adegan keseharian.

I Dewa Putu Sena lahir tahun 1943 di Pengosekan, Ubud, tidak hanya dikenal sebagai pelukis produktif, tetapi juga guru yang menularkan keahliannya kepada generasi muda.

Kiprahnya juga merambah dunia internasional, termasuk partisipasi dalam pameran di Museum Fukuoka, Jepang (1985), serta kerjasama dengan kolektor dan art dealer asal Jerman, Alexander Goetz. [buda]

Shares: