MANGUPURA, balitourismnow.com – I Wayan Beratha Yasa, seorang seniman dan penulis asal Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung memiliki cara tersendiri dalam mendukung kemajuan kepariwisataan di Badung, dan Bali bahkan Indonesia.
Jika sebelumnya atau ketika masih muda, ia lebih banyak menulis seni, budaya dan pariwisata di salah satu media lokal di Bali, namun kini ia lebih banyak menghasilkan karya lukis. Beberapa karya seninya sedang dipamerkan di Pustaka Bali Seni, Jalan Nangka Selatan, Kota Denpasar.
Pameran bertajuk “The Beauty of Wayang” itu memajang sebanyak 16 karya seni lukis dibuat tahun 2018 – 2024. Pameran telah dibuka pada Jumat, 25 Juli 2025 oleh Walikota Denpasar yang diwakili Sekretaris Daerah Ida Bagus Alit Wiradana didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Made Sugiarta.
“Pameran “The Beauty of Wayang” ini untuk perkenalkan karya-karya saya yang seorang seniman tua, disamping ikut mendukung kepariwisataan di Badung, Bali bahkan internasional Masalah laku atau tidak laku (finansial) adalah yang kedua,” kata Yan Beryas sapaan akrab pria itu.
The Beauty of Wayang, merupakan pameran tunggalnya yang ke-6, mendapat sambuatan hangat dari masyarakat para pecinta seni. Karya-karya tersebut, tak hanya menawarkan rasa indah, tetapi juga penuh filosofi dan sarat pesan.
Pameran tunggal kali ini, sebagian besar lukisan tradisi dengan objek wayang mengambil tema dari Epos Mahabrata dan Ramayana. Karyanya mirip lukisan Gaya Kamasan. Sebagiannya, lagi merupakan lukisan modern dengan ide dari kearipan lokal Bali yang kaya akan nilai-nilai.
Menariknya, lukisan wayang itu lebih banyak dalam bentuk cerita bersambung. Artinya, satu karya lukis itu memiliki satu kesatuan makna dengan karya lainnya, sehingga untuk mengerti kisah yang diangkat, mesti menyaksikan semua lukisan itu.

Misalnya, karya lukisan berjudul Arjuna Wiwaha dibuat berseri dalam setiap bidang kanvas. Pada lukisan pertama mengisahkan Arjuna bertapa dan digoda bidadari, namun ia tetap focus pada pertapaannya.
Lukisan kedua, kemampuan Arjuna diuji oleh Bhatara Siwa degan berubah wujud sebagai pemburu. Arjuna dan pemburu itu lalu sama-sama memanah babi. Keduanya kemudian saling klaim bahwa merekalah yang membunuh babi itu.
Pada lukisan ketiga, Arjuna lolos dan menerima penghargaan berupa senjata pasupa, seperti ijasah kalau di jaman sekarang. Senjata pasupati ini kemudian dipakai untuk membunuh Raja Raksasa di dunia. Demikain dengan lukisan selanjutnya, merupakan kelanjutan dari cerita itu.
“Melukis adalah obat sehat bagi saya. Karena itu, saya selalu melukis dan melukis. Sementara pameran ini sebagai vitamain untuk saya agar selalu bersemangat dalam berkarya,” kata Yan Beryas (82) saat menemani pengunjung pameran itu, Selasa 19 Agustus 2025.
Pameran lukis di tengah kota metropolitan ini, mendapat apresiasi seni masyarakat, termasuk memberikan wadah bagi seniman untuk berkarya dan berinteraksi. Namun, paling penting, pameran The Beauty of Wayang ini menjadi ajang edukasi dan promosi budaya.
Beryas mengaku, ketika Sekda membuka pameran ini langsung mengapresiasinya. Pameran ini disebut mengandung unsur pendidikan etika dan moral. Seperti itiasa Mahabrata, Ramayana dan cerita rakyat (satua Bali) seperti Pedanda Baka.
Pameran ini, juga dapat memperkenalkan Denpasar sebagai kota seni dan budaya. “Saya senang, ketika Bapak Sekda Kota Denpasar mengapresiasi, karena saya pelukis dari Kabupaten Badung yang dianggap ikut menggebyarkan kegiatan seni di Kota Denpasar,” ucap Yan Beryas senang.
Pada saat Cok Ace atau lengkapnya Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati yang Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali juga sempat berkunjung ke pameran tunggal The Beauty of Wayang itu.
Wakil Gubernur Bali periode 2018-2023 itu tertarik dengan lukisan Dewata Nawa Sangat, termasuk lukisan lainnya. Katanya lukisan wayang tetap dilestarikan dan dikembangkan. Karena ini adalah karya leluhur kita yg perlu diamankan.
Sejumlah pengunjung lainnya juga menyambut baik pameran ini, seperti mantan Wakil Rektor ISI bali, Ketut Murdana, dan Dosen Seni Rupa Undhiksa Ketut Sudita.
Termasuk Dosen ISI Bali, Nengah Wirakusuma dan lainnya. Mereka ada tak hanya mengapresiai karya-karya itu, tetapi juga memberi ucapan selamat kepada Beryas, seniman uzur masih bisa aktif berpameran. Ini memberi contoh bagi seniman muda atau calon seniman. [buda]


