Destinasi

Bali Butuh Solusi Sampah yang Komprehensif

MANGUPURA, belitourismnow.com – Bali memerlukan solusi sampah komprehensif, termasuk di antaranya penggunaan teknologi yang dapat mengelola sampah menjadi energi listrik (Waste to Energy) sebagai solusi pengurangan sampah di Bali.

Selaian itu, koordinasi dengan Provinsi pesisir selatan Jawa yang daerahnya bisa menjadi potensi asal sampah kiriman ke Pantai Kuta saat angin musim barat Desember-Maret juga menjadi upaya untuk mengurangi kiriman sampah.

Hal itu disampaikan Dr. Yoga Iswara, pengamat pariwisata pada saat mengikuti kegiatan Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik dan Indah (ASRI) di Pantai Kedonganan, Jumat 6 Pebruari 2026. Gerakan ini diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup RI dan Pemerintah Provinsi Bali.

“Kritik keras Presiden Prabowo itu merupakan wake up call (lonceng membangunakan) untuk kita semua agar mencari tata kelola sampah yang komprehensif dan kongkret,” kata Yoga Iswara yang alumnus Doktor Pariwisat Unud itu.

BACA JUGA:  Rayakan Akhir Tahun, Nuanu Creative City Gelar 10+ Pertunjukan Seni dan Sejuta Kenangan dalam “Ruang Rasa”

Vice President Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Pusat ini lelau menegaskan, proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik harus segera dihadirkan dengan segala perencanaan yang matang dan terukur, jangan hanya menjadi retorika.

Walaupun pembiayaan proyek waste to energy tidak murah, namun Bali sudah banyak berkontribusi untuk Devisa Nasional sehingga layak mendapat bantuan prioritas atas kontribusi yang diberikan.

Tahun 2025 Bali menyumbang devisa mencapai sekitar 46% atau setara dengan Rp. 167 triliun, salah satu penyebabnya adalah lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7.05 juta di Tahun 2025 atau meningkat sebesar 11.3% dibandingkan tahun 2024.

Dr. Yoga Iswara menyebut Bali sedang jujur pada dirinya, bahwa permasalahan sampah di Bali telah memasuki pada tahapan kritikal dan multidimensional. Untuk mengatasinya, diperlukan solusi yang komprehensif dan multidimensi.

BACA JUGA:  Danrem Pimpin Prajurit Bersihkan Sampah di Pantai Kedonganan, Ini Hasilnya!

Semua pihak harus berperan dalam tata kelola di semua level, baik di hulu, tengah dan hilirnya, baik sampah yang ada di Bali maupun sampah kiriman. “Perhatian Presiden Prabowo dan juga upaya keras Gubernur Bali, I Wayan Koster, patut kita apresiasi bersama,” ungkapnmya.

Sebab, hal tersebut menandai babak baru dalam evolusi penanganan sampah di Bali. “Semoga ini menjadi momentum dalam menyamakan kalibrasi dan kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, stakeholder serta masyarakat Bali dalam menuntaskan isu sampah,” harapnya.

Isu sampah sudah terjadi selama 41 tahun di Bali. “Evolusi penanganan sampah ini, sekaligus menjaga pesona taksu serta keberlangsungan Pulau Seribu Pura,” tegas Dr. Yoga Iswara.

Khusus terkait sampah kiriman, Dr. Yoga Iswara mengatakan, kordinasi lintas provinsi perlu dibangun agar memiliki kalibrasi yang sama khususnya dengan daerah pesisir selatan Pulau Jawa, yang berpotensi menjadi sumber dari sampah kiriman ke Bali.

BACA JUGA:  MGPA Gelar Pelatihan Keselamatan Jelang GT World Challenge Asia 2025

Fenomena sampah kiriman musiman ini terjadi saat angin musim barat (Desember-Maret), yang membawa sampah organik (kayu/bambu) dan anorganik (plastik) ke pesisir selatan Bali.

“Kebersihan pantai di Bali adalah tanggung jawab bersama, namun jika hulunya tidak dikelola maka permasalahan ini akan terus berkelanjutan dan menjadi sorotan mata dunia international,” lanjut Dr. Yoga Iswara meyakinkan.

Sebagai fase transisi menuju dibangunnya proyek Waste to Energy, semua pihak wajib berperan mengelolah sampahnya berbasis sumber, melakukan pemilahan sampah, composting sampah organik semaksimalnya.

Mengelola sampah bisa dengan teba modern atau dengan alat composter, agar bisa mengurangi kegiatan open dumping di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung.

BACA JUGA:  Mulai April 2026, Tiket Masuk dan Parkir DTW Tanah Lot Naik. Ini Alasannya!

Dr. Yoga Iswara mengakui, masalah sampah di Bali sangat kompleks, namun setidaknya Bali sedang jujur dengan dirinya, semua pihak harus mengambil peran solutif.

“Saling menyalahkan tidak akan membawa kondisi Bali semakin baik, Bali membutuhkan solusi yang komprehensif dan tidak hanya dijadikan retorika politik,” ucapnya.

Diakhir pembicaraannya, Dr. Yoga Iswara mengatakan, harapan dunia terhadap Bali sangat besar, dengan segala dinamika yang dialami Bali.

“Pada pertengan bulan Januari 2026, kita patut bersyukur dan berbangga bahwa Bali kembali mengukuhkan posisinya sebagai destinasi wisata terbaik dunia dengan meraih peringkat pertama dalam “The Travelers’ Choice Awards Best of the Best Destination List 2026” versi TripAdvisor,” pungkasnya.[buda]

Shares: