JEMBRANA, balitourismnpw.com – Anak-anak muda merupakan tim Penyuluh Bahasa Bali itu tampak serius membersihkan debu pada lontar dengan kuas halus. Lalu, mengoleskan minyak sereh untuk menjaga daya tahan daun lontar dari serangan rayap (ngenget).
Hal itu menjadi bagian dari edukasi perawatan lontar yang diberikan oleh tim penyuluh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali itu agar koleksi lontar tersebut tidak rusak dimakan usia. Edukasi itu sebagai upaya penyelamatan warisan leluhur masyarakat Bali.
Itulah kegiatan konservasi dan digitalisasi lontar yang berlangsung di rumah I Ketut Arnyana tepatnya di Banjar Batuagung, Desa Batuagung, Kecamatan Jembrana, Rabu 25 Pebruari 2026. Kegiatan tersebut dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali VIII.
Sebanyak 16 penyuluh yang dipimpin Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Jembrana, Yoga Darma, melakukan konservasi, identifikasi, sekaligus digitalisasi terhadap koleksi lontar milik Arnyana.
Dari proses tersebut, tim berhasil mengidentifikasi 28 cakep lontar, sementara satu cakep lainnya dalam kondisi rusak dan belum dapat ditelusuri isinya.
“Yang bisa kami konservasi dan identifikasi sebanyak 28 cakep. Satu cakep rusak sehingga belum bisa kami pastikan jenisnya,” ujar Yoga Darma.
Puluhan lontar itu mencakup empat jenis utama, yakni wariga, usada, tutur, dan kanda. Pada kelompok wariga tercatat sejumlah judul seperti Bhagawan Garga, Padiwasan, hingga Wariga Palalubangan.
Jenis usada memuat teks pengobatan tradisional seperti Dharma Wisadha Tamba, Usada Rare, dan Usadha Tuju.
Sementara kelompok tutur antara lain Kanda Pat, Sang Hyang Maya Sandhi, dan Tutur Jatining Balian.
Adapun jenis kanda memuat teks keagamaan dan mantra seperti Kaputusan Sang Hyang Wisnu Loka dan Mantran Caru.
Dari seluruh koleksi tersebut, tim menemukan satu lontar yang dinilai berbeda, yakni Sang Hyang Maya Sandhi. Lontar ini mencantumkan nama penulisnya, Pan Mendri, yang jarang ditemukan pada lontar-lontar sejenis.
“Secara umum jenisnya tergolong lontar yang banyak dimiliki masyarakat. Namun, lontar Sang Hyang Maya Sandhi ini menarik karena mencantumkan nama penulisnya,” jelas Yoga.
Selain lontar, Arnyana juga mewarisi Tika, kalender Bali kuno yang dahulu digunakan sebagai pedoman penanggalan tradisional.
Minimnya perawatan menjadi catatan tersendiri. Menurut Yoga, lontar-lontar tersebut hanya dibuka dan diupacarai saat Hari Raya Saraswati. Tidak ada lagi anggota keluarga yang mampu membaca aksara Bali pada lontar itu, sehingga isinya tak pernah dikaji ulang.
Edukasi perawatan juga diberikan kepada pemilik lontar agar koleksi tersebut tidak rusak dimakan usia. “Kami sarankan perawatannya dilakukan rutin seperti ini. Jangan sampai dibiarkan begitu saja hingga rusak,” tegasnya.
Arnyana menyambut baik kegiatan tersebut dan mengapresiasi program Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Konservasi dan digitalisasi lontar dapat terus berlanjut agar warisan leluhur, termasuk Tika kuno yang dimilikinya, tetap lestari dan bisa diwariskan ke generasi berikutnya. [buda]


