Life style

Lemuria – The Lost City Bali: Pengalaman Wellness dengan Perjalanan Spiritual dan Teater Hidup

UBUD, balitouroismnow.com – Jangan bilang sudah di Bali, kalau belum sempat mengunjungi Lemuria. Kota yang hilang di Bali ini menawarkan pengalaman yang lain. Bukan soal menggunakan fasilitas, tetapi tentang masuk ke dunia yang benar-benar berbeda.

Lokasinya ada di depan Sungai Wos yang asri. Suasananya desa banget. Alam menebar aura yang cocok bagi yang suka ketenangan, penggiat yoga, meditasi atau spiritual. Kalau ke sana, siaplah menuruni anak tangga yang mirip dilakukan orang tempo dulu.

“Tempat ini menggabungkan spiritualitas Bali dengan pengalaman modern untuk membantu orang menemukan keseimbangan antara teknologi dan kemanusiaan, serta pekerjaan dan hubungan social,” kata Arthur, pendiri Lemuria – The Lost City Bali, Jumat 20 Maret 2026.

Lemuria – The Lost City Bali adalah sebuah retreat mewah sekaligus “teater hidup” di mana para tamu menjadi protagonis dalam transformasi diri mereka sendiri. Ketika tamu datang ke Lemuria, maka mereka akan masuk ke dunia yang benar-benar berbeda.

BACA JUGA:  Deretan Pembalap Nasional Ini, Siap Berlaga di Kejurnas ITCR 2025

Percata aray tidak, pengalaman dimulai dari meja makan, namun menu tradisional telah dihapuskan. Sebagai gantinya hadir Oracle of Spice, sebuah set kartu yang menentukan jiwa dari hidangan itu.

Hal ini tentu berbeda. Jika biasa pergi ke restoran biasa, maka yang melihat menu, memilih makanan, lalu makanan disajikan. Tapi di Lemuria tidak seperti itu. Tamu harus memilih kartu rempah yang akan menentukan takdir rasa menu itu.

Para tamu dapat memilih topping dari tradisi Mesir kuno dan Persia, termasuk daging dan sayuran, namun bumbu ditentukan oleh kartu yang dipilih.

Tari api yang memikat para tamu di Lemuria – The Lost City Bali/Foto: dok. Lemuria

Baik itu Ancient Persian (saffron dan sumac) atau The Lemurian Heat (cabai rawit) untuk pemurnian, para “Master Rempah” di panggangan memastikan bahwa setiap hidangan menjadi sebuah ritual.

BACA JUGA:  ‘Internship Program’: Yayasan Bhakti Petani Nusantara Perkenalkan Kopi Robusta Pupuan Kepada Wisatawan

Anda bisa meracik nasi campur atau shawarma Mediterania, namun seperti yang dikatakan Arthur. Apa pun yang Anda campur, maka harus menggunakan rempah sesuai kartu yang dipilih.

Hiburan di Lemuria merupakan cerminan interaktif dari masyarakat modern. Pertunjukan malam hari menggambarkan benturan dua filosofi kuno, memaksa tamu untuk memilih kesetiaan mereka: kaum Lemurian, penjaga alam dan emosi, atau Atlantean, pendukung teknologi dan produktivitas.

“Kaum Atlantean percaya bahwa manusia harus terhubung dengan mesin, seperti selalu berada di ponsel. Sementara kaum Lemurian percaya bahwa kita harus terhubung dengan sesama manusia, lebih dekat dengan alam, orang di sekitar, dan perasaan,” ujar Arthur.

Ini bukan pertunjukan yang hanya ditonton, tetapi para tamu harus memilih sisi. Tergantung pilihan tamu, maka berinteraksi dengan pertunjukan dan menentukan nasib umat manusia. Jantung fisik dari tempat ini adalah rangkaian 12 kolam batu kapur bertingkat.

BACA JUGA:  Adhyaksa International Run 2025: Digelar di The Nusa Dua, Dimeriahkan 3.100 Pelari

Masing-masing kolam dipenuhi kristal yang bergetar pada frekuensi tertentu. Sebelum masuk, tamu memilih Intention Card untuk membimbing kondisi psikologis mereka. Seseorang bisa memilih Amethyst, batu kejernihan, untuk fokus pada keputusan hidup, atau Tiger’s Eye untuk keberanian.

“Setiap kristal memiliki fokusnya sendiri, yang membantu tamu mengembangkan psikologi diri yang lebih besar—pribadi yang ingin dicapai. Ketika Anda sampai di puncak, Anda akan berubah. Anda benar-benar merasa, ‘Saya bisa mencapainya’… karena Anda telah melepaskan semua hal yang mengganggu,” jelas Arthur.

Mungkin pengalaman paling intens adalah Temascal, sebuah kubah Aztec raksasa yang digambarkan Arthur sebagai “oven pizza untuk manusia.” Di dalamnya, tamu dipandu melalui “Empat Pintu” kelahiran kembali, dari Jaguar (menghadapi sisi bayangan diri) hingga Monkey (melepaskan rasa takut akan penilaian orang lain).

Ritual ini mencapai puncaknya dalam kisah Elang, metafora tentang rasa sakit dalam proses pertumbuhan.

BACA JUGA:  GT World Challenge Asia 2026 Digelar di Pertamina Mandalika International Circuit

Para peserta dibimbing untuk melepaskan segala hal yang menghalangi mereka mencapai tujuan. Panas terus meningkat hingga tahap akhir Cold Plunge, yang memberikan kejutan pada tubuh untuk “mengunci” perubahan baru tersebut.

Arsitektur di Lemuria – The Lost City menjadi bukti sejarah manusia. Sebuah dinding besar menampilkan ukiran dari Anunnaki, Sumeria, Mesir, Maya, dan Khmer—representasi “kesatuan kekuatan manusia saat mereka berjaya.”

Perspektif global ini berakar pada semangat Bali, yaitu Banjar, di mana dukungan komunitas diberikan dengan tulus.

Arthur berharap para tamu pulang membawa lebih dari sekadar foto. “Saya berharap orang melihat tempat ini apa adanya, bukan sekadar tempat untuk datang, tetapi tempat untuk merasakan dan bertumbuh,” harapnya.

BACA JUGA:  Daniswari Rent Car & Tour Bali dan Pasraman Pucuk Bang Dibuka di Gianyar: Menikmati Objek Wisata dan Membantu Semeton Bali

Di Lemuria, bartender adalah Master Ramuan, pelayan adalah Pemandu, dan penari api pada akhirnya akan mengajarkan Anda bermain dengan api itu sendiri. Ini adalah destinasi yang dirancang untuk membantu tamu “hidup dalam cerita baru”—penuh semangat, keberanian, dan versi terbaik dari diri mereka.

Dan di Ubud—tempat yang sudah dikenal dengan resonansi spiritualnya—Lemuria secara halus memperluas warisan tersebut, mengubah wellness dari kondisi sementara menjadi perjalanan eksplorasi diri yang berkelanjutan. [buda]

Shares: