MANGUPURA, balitourismnow.com – Keindahan serta kenyamanan The Nusa Dua, kini menarik kunjungan wisatawan asal Australia. Pecinta liburan dari Negeri Kangguru itu, tak hanya menyukai Kuta, Canggu atau Seminyak, mereka juga menyukai wisata terintegrasi.
“Pada saat di negaranya musim dingin, wisatawan Australia akan ke Indonesia. Mereka memiliki banyak pilihan berwisata, tetapi suasana katulistiwa itu tidak ditemukan di negara mereka, maka pilihannya adalah Bali selain Bangkok,” kata General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika baru-baru ini.
Agus Dwiatmika mengatakan, wisatawan Australia melihat The Nusa Dua itu dari sisi yang terjaga. Hotel besar tak terliaht dari luar, tetapi hotel bintang lima ada banyak. Jika keluar hotel, mereka secara langsung dapat merasakan suasana hotel yang beda.
Keluar hotel, mereka langsung joging dengan suasana alam sejuk, aman dan nyaman. di sini, taman dan arsitektur Bali tetap terjaga. Liburan di Bali, mereka tidak mencari gedung mewah dan tinggi, tetapi mereka ingin melihat arsitek dan budaya Bali yang kental.
Jika ingin ke mall, juga sangat dekat karena Bali Collection masih berada dalam satu kawasan. Mall ini juga beda dan sangat nyaman, karena bukan tempat belanja yang tertutup, tetapi terbuka, sajikan budaya dan ramah.
“Bagaimanapun orang hutuh liburan, Bali khususnya nusa dua menjadi pilihan bagi mereka untuk bersantai. Di tengah dinamika geopolitik saat ini, di Maret ini belum ada pengaruh kunjungan wisatawan ke The Nusa Dua, tetapi kami harus melihat April ini,” ucapnya.
Direktur Operasi ITDC, Troy Warokka mengatakan, stabilitas okupansi di Nusa Dua ditopang oleh komposisi wisatawan yang beragam. Wisatawan dari Australia, Rusia, China, dan India menjadi pasar utama yang mampu menjaga tingkat kunjungan tetap terjaga.
Faktor keamanan tentu menjadi pertimbangan utama bagi wisatawan dalam memilih destinasi. Mereka melihat Nusa Dua memiliki tingkat keamanan yang baik, yang turut memperkuat kepercayaan wisatawan untuk berkunjung dan menginap lebih lama.
“Wisatawan melihat Indonesia, khususnya Nusa Dua, relatif aman dan stabil. Ini menjadi nilai penting di tengah situasi global saat ini,” sebut Troy didampingi Agus Dwiatmika kepada awak media saat itu.
Menurutnya, secara umum, kunjungan wisatawan saat ini cukup baik dibandingkan tahun lalu. Struktur wisatawan kita cukup ter-cover dari berbagai negara. Wisatawan dari Timur Tengah masih ada yang berkunjung, meskipun jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya.
“Hal ini dipengaruhi oleh perubahan rute perjalanan yang kini lebih panjang serta biaya yang meningkat. Dulu mereka bisa langsung terbang ke Indonesia dan Bali, sekarang harus memutar, sehingga biaya perjalanan tentu lebih mahal,” jelasnya.
Troy mengaku, okupansi di Nusa Dua tetap positif. Tingkat kunjungan wisatawan menunjukkan tren yang tetap positif di tengah dinamika geopolitik global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini bahkan dinilai lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di tengah kondisi tersebut, ITDC justru melihat adanya peluang bagi pelaku usaha di kawasan Nusa Dua, khususnya tenant dan pengelola hotel untuk meningkatkan kualitas layanan. Jumlah wisatawan yang tidak terlalu padat, lama tinggal wisatawan justru cenderung lebih panjang.
“Ini menjadi momentum bagi tenant untuk memberikan pelayanan terbaik agar wisatawan bisa tinggal lebih lama. Dengan begitu, okupansi di kawasan Nusa Dua tetap terjaga, bahkan berpotensi meningkat dari sisi kualitas kunjungan,” harapnya. [buda]


