News

Generasi Muda Bali Unjuk Kemampuan di Utsawa Dharmagita XXXIII

DENPASAR, balitourismnow.com — Suara generasi muda kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu 12 September 2026. Melalui lantunan sloka, palawakya, dan dharmawacana, mereka menunjukkan kemampuan sekaligus ikut menjaga keberlanjutan sastra dan budaya Bali dalam Utsawa Dharmagita (UDG) XXXIII.

Pada hari kedua, UDG yang mengusung tema “Dharmagita Atmanam Dharma” bermakna Menuntun Jiwa Menuju Kesucian menggelar enam lomba, yakni Membaca Sloka Anak-Anak Putra di Gedung Kriya, Dharmawacana Bahasa Inggris Dewasa Putri di Gedung Ksirarnawa.

Lalu, lomba Membaca Palawakya Remaja Putra di Kalangan Angsoka, Membaca Kakawin Remaja Putra di Kalangan Ayodya, Menghafal Sloka Anak-Anak Putra di Wantilan, serta Dharmawacana Bahasa Bali Anak-Anak Putra di Kalangan Ratna Kanda.

Lomba Membaca Palawakya Remaja Putra menjadi salah satu yang menarik perhatian pengunjung. Peserta membawakan prosa Jawa Kuna/Kawi dengan karakter vokal yang kuat, pembawaan yang baik, dan pemaknaan yang dinilai semakin berkembang.

Salah satu dewan juri, Nengah Medera, mengaku bangga melihat antusiasme generasi muda mengikuti lomba tersebut. Menurutnya, kualitas penampilan peserta menunjukkan perkembangan yang cukup tinggi.

“Itu barangkali karena para pembinanya sudah berpengalaman bertahun-tahun. Namun, masalahnya sekarang bagaimana kita selalu memotivasi anak-anak muda itu supaya senang dan mencintai warisan ini,” ucapnya.

Medera mengatakan, pembinaan tidak cukup hanya untuk mempersiapkan peserta menghadapi Utsawa. Generasi muda perlu terus dimotivasi agar menekuni sastra Bali sehingga kelak menjadi bagian dari regenerasi kebudayaan.

“Kalau kita berpikir tentang budaya Bali, sesungguhnya inilah yang menjadi akar dari apa yang diwarisi oleh para leluhur Bali,” tegasnya.

Sementara itu, lomba Dharmawacana Bahasa Inggris Dewasa Putri juga mendapat perhatian pengunjung. Kualitas peserta cukup baik, terutama dalam penguasaan bahasa Inggris dan materi.

“Lomba Dharmawacana Bahasa Inggris mengalami perkembangan yang sangat baik setiap tahunnya. Hanya saja, secara kuantitas mengalami penurunan,” ucap Dewan juri, Ketut Sutama.

Dari sembilan kabupaten/kota di Bali, hanya empat peserta yang dapat diseleksi untuk melaju ke tingkat nasional. Mereka berasal dari Kabupaten Badung, Karangasem, Tabanan, dan Kota Denpasar.

Penurunan jumlah peserta juga terlihat dalam lomba Menghafal Sloka Anak-Anak Putra yang hanya diikuti empat peserta dari Kabupaten Gianyar, Badung, Karangasem, dan Kota Denpasar. Meski demikian, penampilan peserta dinilai cukup baik.

“Persaingan di kategori putra ini cukup ketat, khususnya untuk juara satu dan dua,” ujar salah satu dewan juri, Jero Arum.

Jero Arum mencatat beberapa hal yang masih perlu diperbaiki, terutama pelafalan bahasa Sanskerta dan penerjemahan sloka ke dalam bahasa Bali. Menurutnya, penerjemahan tidak dapat dilakukan secara harfiah karena harus memperhatikan konteks makna dan kaidah sor singgih basa.

Selain itu, pembacaan sloka harus memperhatikan aturan wirama, guru, dan lagu. Kecepatan membaca juga tidak menjadi ukuran utama.

“Secara umum, dalam lomba ini yang paling penting adalah keutuhan pembacaan dan ketepatan terjemahan, bukan kecepatan membaca. Kebanyakan anak-anak yang tampil terlalu cepat temponya sehingga maknanya tidak jelas,” ungkapnya.

Catatan tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan. Di tengah perubahan zaman, Utsawa Dharmagita tidak hanya menjadi ruang kompetisi, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk menjaga sastra Bali tetap dipelajari dan diwariskan oleh generasi muda. [buda]

Shares: