Art & Culture

10 Peserta Uji Kemampuan Menulis Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali VIII

DENPASAR, balitourismnow.com – Peserta Wimbakara (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali tak hanya wajib menyelesaikan tulisan yang baik dan benar, tetapi juga harus mampu mempertanggung jawabkan di depan dewan juri.

Tanya jawab itu, menjadi tahapan penilaian lomba yang diikuti serius para peserta. Ruang Serasehan, Taman Budaya Provinsi Bali sebagai lokasi lomba menjadi saksi, semangat para generasi anak muda dalam melestarikan Bahasa Bali.

Dewan Juri, Prof. Dr. Putu Sutama. MS mengatakan, sebagai dewan juri dirinya hanya mencoba mengecek, apakah benar yang mereka tulis itu memang dibuatnya sendiri, dan apakah yang diekspresikan cocok.

“Kalau tulisannya bagus, namun tiba-tiba tampil dengan Bahasa Bali yang kacau, maka kita bisa menilai ini masih ada intervensi dari pihak lain,” kata Guru Besar Program Studi Bahasa Bali Universitas Udayana disela-sela penilaian itu, Selasa 17 Pebruari 2026.

BACA JUGA:  Penyuluh Bahasa Bali Konservasi Lontar Milik Ida Pedanda Gede Wayahan

Tanya jawab dalam penilaian ini, jelas Prof. Putu Sutama, bukan untuk menakut-nakuti, tetapi ini menjadi ajang pembelajaran buat para peserta.

“Karena itu, tulisnya mesti diuji, jangan sampai generasi ke depan ingin mempertahankan budaya, tetapi mereka hanya mencopot-copot teks saja, tanpa mengerti arti dan maknanya,” ucapnya.

Untuk menulis opini ini sebenarnya harus melakukan riset. Artinya, sebelum menyampaikan opini, penulis bisa melakukan observasi secara obyektif.

Misalnya, Prof. Putu Sutama memberikan contoh, ketika mengangkat tema pelestarian Bahasa, lalu banyak yang membuat judul, seperti Bahasa Bali Sudah Hampir Mati.

BACA JUGA:  Lovina Festival Bagian Penting dari Karisma Event Nusantara 2025

“Maka, itu bukan penalaran generasi muda yang cerdas. Mereka mesti menjelaskan, hampir matinya bagaimana, berdasarkan pengamatannya di mana. Mestinya, ketelitian teks, logika dan rasionalnya harus jelas. Di sinilah yang biasanya menjadi kekurangan bagi penulis generasi sekarang,” ungkapnya.

Dalam lomba ini, dewan juri hanya memetakan rasional generasi muda dari aspek bahasa. Ada salah satu peserta yang mengatakan bahasa Bali sudah mati. Ini mesti jelas. Dimananya dilihat mati. Sebab, di desa-desa Bahasa Bali masih dipakai dalam percakapan sehari-hari.

“Itu pernyataan yang konyol. Mereka mesti menyampaikan melalui survew dan tidak omong kosong,” imbuhnya.

Walau demikian, Prof. Putu Sutama tetap mengapresiasi terhadap peserta yang mampu menyajikan karya tulisnya dengan waktu yang tepat. Pesertanya lumayan banyak. Ada 45 peserta yang mendaftar, namun yang akhirnya menyetor tulisan itu sekitar 32 peserta.

BACA JUGA:  UPMI Bali Pentaskan 'Bima Swarga' di Bulan Bahasa Bali 2026

Setelah penilaian pada babak penyisihan, tim juri kemudian merengking menjadi 10 besar yang diberikan kesempatan tanmpil memaparkan karyanya di depan dewan juri.

Tujuannya untuk mengevaluasi apakah teks yang mereka tulis itu dibuatnya sendiri atau di buatkan oleh orang lain. Sebab, sering kali lomba, seperti ditingkat SMP dan SMA itu masih dibuatkan orang lain, lalu peserta itu seperti orang “ngigelang tapel” saja.

“Maka, kami sebagai juri mencoba ngecek, apakah benar yan mereka tulis dibuat sendiri, lalu diekpresiakan disini cocok tidak. Karena itu untuk melengkapi penilaian, maka kami coba menggali dengan pola pikir mereka apakah sudah tuntas apa belum,” sebutnya.

Prof. Putu Sutama mengatakan, banyak tulisan peserta yang belum tuntas. Beberapa peserta ada memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) yang modern teknologi atau belum berdasarkan gagasan yang murni. Hal itu tampak dari judul, opening, body dan closing-nya yang tidak runut.

BACA JUGA:  12 Desa Adat dan 45 Desa/Kelurahan Tidak Malaksanakan Bulan Basaha Bali 2026

“Banyak yang judulnya berbunga-bunga, tetapi datanya masih lemah dan terkesan nyontek. Walau demikian, mereka sudah mau menulis dan mau tampil saja, kita sudah senang,” ucapnya mengapresiasi. [buda]

Shares: