Art & Culture

12 Desa Adat dan 45 Desa/Kelurahan Tidak Malaksanakan Bulan Basaha Bali 2026

DENPASAR, balitourismnow.com – Masih ada sejumlah wilayah yang tidak Bulan Bahasa Bali tahun 2026. Event budaya ini menjadi momentum seluruh lapisan masyarakat Bali untuk menjaga keberlanjutan kebudayaan serta indentitas local di tengah arus modernisasi ini.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kebudataan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana saat memberikan laporan kepada Gubernur Bali, Wayan Koster pada Bulan Bahasa Bali ke-8 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu 28 Pebruari 2026.

Dari 1500 desa adat di Bali hanya 1488 desa adat yang melaksanakan kegiatan Bulan Bahasa Bali. Sedangkan 12 desa adat tidak menyelenggarapannya. Desa adat di Kota Denpasar, Kabupaten Jembrana, Karangasem, dan Tabanan semuanya melaksanakan hajatan tersebut.

Sedangkan desa adat yang tidak melaksakan itu ada Kabupaten Buleleng sebanyak 2 desa adat, di Kabupaten Badung 1 desa adat, serta di Kabupaten Klungkung, Bangli dan Gianyar masing-masing 3 desa adat yang tidak melaksanakan hajatan tersebut.

BACA JUGA:  Perempuan Bali Meriahkan Lomba Seni Budaya dalam HUT WHDI di Bulan Bahasa Bali 2026

Pelaksanaan Bulan Bahasa Bali di tingkat desa/kelurahan, dari 716 desa/kelurahan yang ada hanya 671 desa/kelurahan yang melaksanakan. Sedangkan 45 desa/kelurahan absen. Desa/kelurhan di Kota Denpasar, Kabupaten Karangasem dan Tabanan menggelarnya.

Sementara di Kabuaten Badung 9 desa/keluaran yang tidak melaksanakan, di Kabupaten Jembrana 7 desa/kelurahan, Bangli 11 desa/kelurahan, Buleleng 11 desa/kelurahan, Gianyar 6 desa/kelurahan dan Klungkung 1 desa/kelurahan.

Di lembaga pendidikan dibawah Pemerintah Provinsi Bali, dari 498 SMA/SMK di Bali hanya 495 yang melaksanakan, dan 3 sekolah absen. Sementara dari 16 SLB di Bali, semuanya melaksanakan. Demikian pula di perguruan tinggi.

Alit Suryana menambahkan, pelaksanaan Bulan Bahasa Bali ini dimaknai sebagai altar pemuliaan bahasa, akksara dan saatra Bali sebagai taman spiritual untuk membangun jiwa yang mahasempura.

BACA JUGA:  Festival Konservasi Lontar di Kabupaten Buleleng Berhasil Identifikasi 12 Cakep Lontar

Dari sebanyak 17 lomba yang diikuti oleh 1.168 peserta terdiri dari perwakilan kabupaten/kota dan masyarakat umum. Peserta luar daerah ikut berpartisipasi, seperti Lombok, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta dan Sulawesi.

Widyatula (seminar) yang membicarakan berbagai isi lontar diikuti 958 peserta. Sementara tiga jenis Kriyaloka (workshop), seperti Baligrafi, Tuntunan Pangenter Acara Basa Bali dan Mabaosan Basa Bali diikuti sebanyak 516 peserta.

Paguneman Pengawi Bali (Diskusi sastra) yang membicarakan kesustraan Bali itu diikutin oleh 183 terdiri dari pengarang, praktisi, wartawan, mahasiswa dan kritikus sastra. Sasolahan, bentuk apresiasi sastra Bali menampilkan sebanyak 12 sanggar dan komunitas.

Lalu, kegiatan Malajah Sambil Maplalianan (ruang belajar ramah anak) dipandu oleh FKMGMP Bahasa Bali, perguruan tinggi dan praktisi basa Bali melibatkan sebanyak 525 peserta terdiri dari siswa SD di sekitar Kota Denpasar.

BACA JUGA:  Anak-anak SMA dan SMK Tampil Mempesona pada Lomba Lagu Pop Bali di Bulan Bahasa Bali VIII

Pameran yang menghadirkan komunitas, UMKM dan lembaga pendidikan itu menjadi oerhatuian masyarakat, terutama generasi muda. Selama sebulan penuh itu, pameran Bulan Bahasa Bali selama sebulan dikunjungi sebanyak 1.429 pengunjung.

Semetara, utsawa (festival) mengetik aksara Bali dengan keyboard itu melibatkan sebanyak 150 orang terdiri dari siswa SMA/SMK. Lalu, Raksa Pustaka, konservasi lontar yang dilakukan oleh penyuluh Bahasa Bali berhasil mengkonservasi sebanyak 1500 lontar milik masyarakat.

Untuk penganugrahan Bali Kerthi Nugraha Mahottama diberikan kepada Pimpinan Umum Kelompok Media Bali Post, ABG Satria Naradha untuk kategori lembaga, dan untuk kategori perseorangan diberikan kepada I Wayan Turun. [buda]

Shares: