DENPASAR, balitourismnow.com – Pengunjung Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026 dibuat terpesona oleh penampilan delegasi seni dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang difasilitasi oleh Konsulat Jenderal RRT, Hong Kong, dan Jiangxi pada Senin, 15 Juni 2026. Para seniman menghadirkan pertunjukan yang sarat nilai akulturasi budaya dan kekayaan tradisi Tiongkok.
Penampilan para musisi dan penari yang memukau menghadirkan nuansa berbeda di panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) dalam rangkaian PKB ke-48. Permainan musik yang apik serta tarian yang autentik dan ekspresif sukses memikat perhatian penonton. Tak heran, Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, dipadati pengunjung yang antusias menyaksikan pertunjukan tersebut.
Salah satu sajian yang paling menarik perhatian adalah Opera Beijing bertajuk Gong dan Drum Tradisional Hakka. Pertunjukan ini memadukan kekuatan ritme yang menghentak, sinkronisasi koreografi yang dinamis, serta makna filosofis yang mendalam dalam setiap permainan tabuhnya.
Kesenian perkusi tradisional Tiongkok tersebut menghadirkan dentuman drum yang tidak sekadar menjadi iringan musik, melainkan simbol detak kehidupan, kekuatan, dan semangat masyarakatnya. Penonton larut dalam suasana pertunjukan, sebelum akhirnya memberikan tepuk tangan meriah di penghujung penampilan.
Selain permainan drum, para musisi juga menampilkan alat musik perkusi sejenis simbal yang dikenal sebagai ceng-ceng atau chazi. Instrumen ini menghadirkan daya tarik tersendiri melalui harmoni ritme yang kuat, teknik pukulan akrobatik yang presisi, serta kemampuan para pemain membangun ketegangan dramatis meskipun tanpa iringan tarian.
Penggunaan partitur dalam permainan ceng-ceng memberikan panduan yang jelas bagi para pemain untuk mengatur dinamika pertunjukan, mulai dari jeda, tempo lambat, suara mati, teknik gesek, hingga akselerasi cepat. Unsur musikal ini menjadi bagian penting yang membuat penonton menikmati setiap detail pertunjukan dengan penuh perhatian.
Berbagai repertoar perkusi lainnya turut ditampilkan, di antaranya Trio Perkusi – Drama (Xi): Bagian ke-6 karya Guo Wenjing, Ensembel Drum Tiongkok: Seratus Tahun Kesunyian karya Zhou Zhantong, serta Duet Drum Tiongkok: Sapi Melawan Harimau yang diaransemen oleh Wang Guojie dan Wang Baocan.
Pertunjukan dilanjutkan dengan Dialog Kulit Genderang karya Mark Ford, Konserto Perkusi: Naga Terbang dan Harimau Melompat karya Li Minxiong, serta karya-karya An Zhishun seperti Bebek yang Bertengkar dan Harimau yang Menggerus Gigi. Tak ketinggalan, musik tradisional suku Tujia berjudul Ayam Pegar Emas Terbang Keluar dari Gunung turut memperkaya sajian malam itu.
Penonton juga dibuat kagum oleh penampilan Kevin Truck yang mempersembahkan Sistem Suara Tabuhan Suku. Permainan dan eksplorasi bunyi yang dihasilkan memberikan pengalaman artistik yang unik dan memikat.
Selain pertunjukan musik dan tari, delegasi Tiongkok menghadirkan Seni Teh Tradisional Tiongkok yang mengangkat tema “Keanggunan Budaya Klasik Tiongkok”, menghadirkan nilai-nilai budaya yang inspiratif dan penuh filosofi.
Rangkaian acara juga menampilkan nyanyian solo dengan iringan alat musik guzheng dan tarian Meja Giok Hijau – Malam Festival Lampion, disusul tarian tradisional Kuda-Kuda yang Berlari Kencang serta Ribuan Biji Padi dalam Lukisan – Merayakan Asal Usul Beras.
Tarian-tarian klasik yang dipentaskan kaya akan kisah sejarah dan legenda. Setiap gerakan yang anggun, dinamis, dan sarat makna spiritual mencerminkan perpaduan harmonis antara sejarah, estetika seni, dan ekspresi emosional yang mendalam.
Di bagian akhir, delegasi seni Tiongkok juga menyuguhkan demonstrasi pembuatan payung kertas minyak, seni keramik, serta pameran kaligrafi dalam rangka Warisan Budaya Takbenda. Berbagai praktik budaya sehari-hari tersebut disajikan sebagai karya seni yang memukau dan memberikan pengalaman budaya yang autentik bagi para pengunjung.
Gubernur Bali, Wayan Koster, dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, menyampaikan apresiasi mendalam atas partisipasi aktif delegasi Tiongkok. Kehadiran para seniman internasional tersebut dinilai strategis dalam memperkuat dialog budaya antarbangsa.
Partisipasi Tiongkok menjadi bukti nyata eratnya hubungan persahabatan dan kerja sama kebudayaan antara Bali dan Republik Rakyat Tiongkok. Seni dinilai mampu melampaui batas geografis dan membangun rasa persaudaraan antar masyarakat.
“Melalui perjumpaan budaya ini diharapkan lahir inspirasi baru bagi para seniman lokal sekaligus memperkuat kerja sama berkelanjutan di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis budaya,” ujarnya.
Kurator Pesta Kesenian Bali, Prof. Dr. I Made Bandem, turut memberikan apresiasi tinggi terhadap karakteristik seni yang ditampilkan delegasi Tiongkok. Menurutnya, pertunjukan tersebut menunjukkan bagaimana tradisi kuno dapat terus hidup dan berkembang melalui pendekatan yang relevan dengan zaman.
“Untuk Tiongkok, kebudayaan tradisinya sangat kuat. Mereka menampilkan drama tradisi yang sangat kuno, namun dikembangkan dengan pola klasik sehingga tampilannya menjadi lebih modern,” ungkapnya.
Prof. Bandem juga menyatakan kebanggaannya terhadap perkembangan BWCC yang secara konsisten menjadi ruang pertemuan budaya internasional setiap tahun. Kehadiran seni klasik Tiongkok tidak hanya memperkaya keragaman pertunjukan dalam PKB XLVIII, tetapi juga mempererat hubungan emosional dan persaudaraan antara masyarakat Bali dan masyarakat Tiongkok. [buda]

