DENPASAR, balitourismnow.com — Nuansa spiritual sekaligus artistik itulah yang terasa dalam Lomba Nyanyian Keagamaan pada Utsawa Dharmagita (UDG) XXXIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Provinsi Bali, Selasa, 14 September 2026.
Lomba Nyanyian Keagamaan ini tidak hanya menampilkan kemampuan vokal peserta, tetapi juga kreativitas aransemen, musik, dan koreografi turut mewarnai penampilan. Nyanyian keagamaan itu, tetap mengedepankan nilai-nilai Dharma dan ajaran agama Hindu.
“Semua mempunyai penyajian, semua mempunyai kelebihan, dan semua mempunyai kekurangan,” kata salah satu dewan juri, Prof. Dr. Desak Made Suarti Laksmi usai lomba.
Kategori Nyanyian Keagamaan Hindu tahun ini diikuti tiga peserta yang merupakan perwakilan Kabupaten Bandung, Gianyar, dan Tabanan. Menariknya, setiap peserta memiliki karakter penyajian yang berbeda, baik dari sisi vokal, aransemen, kreativitas maupun koreografi.
Prof. Desak Suarti menilai jumlah tersebut masih perlu ditingkatkan karena semakin banyak peserta, semakin besar pula peluang untuk menemukan talenta terbaik. “Idealnya, seluruh kabupaten/kota di Bali ikut berpartisipasi dalam kategori ini maupun kategori lainnya,” ujarnya.
Dala lomba ini, aspek religiusitas menjadi unsur penting dalam penilaian. Sebuah karya tidak cukup hanya memiliki kualitas musikal, tetapi juga harus mampu menyampaikan nilai-nilai Dharma.
“Nyanyian keagamaan tidak cukup hanya terdengar indah secara musikal, tetapi juga harus mampu merefleksikan nilai-nilai Dharma dan ajaran agama Hindu,” ujarnya.
Kreativitas musikal tetap terbuka, termasuk penggunaan nuansa musik populer seperti pop dan jazz. Namun, eksplorasi tersebut tidak boleh menghilangkan identitas keagamaan dalam karya.
“Apa pun namanya, religiusitas tidak bisa ditinggalkan. Keagamaan itu harus muncul,” tegasnya.
Dosen Seni Pertunjukan ISI Bali itu juga menekankan pentingnya pemahaman ajaran Dharma bagi pencipta lagu. Menurutnya, pencipta karya harus memahami tema dan ajaran yang diangkat agar pesan keagamaan tetap memiliki substansi.
Selain aspek musikal, UDG juga memberikan ruang bagi keberagaman bahasa. Lagu wajib menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan lagu pilihan menggunakan bahasa daerah Nusantara sesuai ketentuan panitia.
UDG XXXIII diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang untuk menggali dan menyeleksi talenta terbaik yang nantinya dapat mewakili daerah pada tingkat nasional.
Tiga peserta yang tampil dalam kategori Nyanyian Keagamaan tersebut dimenangkan Kabupaten Bandung sebagai Juara I , Gianyar meraih Juara II dan Kabupaten Tabanan sebagai Juara III.
Selain Nyanyian Keagamaan Hindu, rangkaian lomba pada hari yang sama meliputi Membaca Sloka Dewasa Putra, Membaca Gaguritan Anak-anak Putri, Dharmacarita Anak Putra, Menghafal Sloka Dewasa Putra, Dharmawacana Bahasa Bali Dewasa Putra, Dharmawiwada, serta Membaca Gaguritan Anak-anak Putra. [buda]


