MANGUPURA, balitourismnow.com – Efisiensi anggaran pemerintah pusat berpengaruh terhadap pariwisata Bali, khususnya pada sektor perhotelan, yang memiliki fasilitas Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE), dimana jumlah kunjungan menurun.
“Sejak pemerintah menerapkan kebijakan efisiensi anggaran, di hotel kami terjadi penurunan jumlah kunjungan Wisatawan Domestik (Wisdom) hingga 20 sampai 30 persen,” kata General Manager THE 1O1 Bali Fontana Seminyak, I Wayan Karta, selasa 11 Maret 2025.
Penurunan kunjungan itu terlihat mulai Januari sampai pertengah Maret 2025 ini yang sama sekali tidak ada kunjungan. Hal itu berbeda, jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang sudah mulai ada kunjungan, seperti kunjungan kerja .
Padahal, di musim low season ini yang menjadi target pasar pengelola hotel adalah wisatawan domestik, utamanya kunjungan kerja dari pegawai pemerintahan, termasuk perusahan swasta. Biasanya, mereka melakukan meeting ataupun study banding di Pulau Dewata.
“Kami harap, Kepala Daerah setalah dilantik menyusun anggarannya yang disesuaikan dengan pembatasan dan pemangkasan dari dari pemerintah. Mudah-mudahan segera disiapkan anggaran, walaupun tidak sama seperti tahun sebelumnya,” harap Karta serius.
Biasanya, anggaran itu dari tahun ketahun terjadi kenaikan. Namun, karena adanya efisiensi anggaran tentu akan turun karena menyesuaikan. “Kami harap anggaran itu, jangan turunlah sehingga kami yang bergelut di bisnis pariwisata dapat kecipratan,” usul Karta.
Kunjungan dari pemerintahan itu, bukan hanya dari wisatawan MICE saja, tetapi juga kunjungan dari dinas-dinas, baik bersama rombongan ataupun perorangan. “Kalau tahun lalu itu, mulai Pebruari sudah ada kunjungan MICE,” sebut Karta meyakinkan.
Karta mencermati, penurunan kunjungan itu juga berlaku pada para pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN). “Kalau pariwisata normal seperti pada tahun sebelumnya, kegiatan BUMN di Bali sudah mulai terlihat. Semoga mulai April ini kunjungan kembali bagus,” harapnya.
Walau demikian, Karta mengaku telah gencar melakukan promosi dengan melakukan kunjungan. “Minggu lalu, kami melakukan promosi dari Bali, ke Banyuwangi hingga Malang dengan mengunjungi kantor-kantor pemerintah, dan korporasi” akunya polos.
Selain mengunjungi kantor-kantor pemerintahan, pihaknya juga menyambangi perusahaan-perusahaan dan pabrik-pabrik besar. Di sana, Karta mendapat informasi kalau instansinya sedang melakukan pengetatan anggaran, sehingga tidak bisa melakukan perjalanan ke luar daerah.
Walau demikian, tetap ada beberapa orang yang melakukan kunjungan karena dianggap penting, namun dengan anggaran yang terbatas dan jumlah peserta yang terbatas pula. “Kunjungan itu, hasil promosi yang dilakukan di awal tahun lalu,” imbuhnya.
Wisatawan domestic, memang menjadi pasar utama bagi THE 1O1 Bali Fontana Seminyak. “Target kami saat ini adalah wisatawan domestic yang menjadi nomer satu, walau jumlahnya menurun. Selanjutnya Eropa, Australia, Asia, dan Western yang tidak terlalu banyak,” ucapnya.
Menurut Karta, jika situasi kunjungan ini tidak berubah ke arah yang lebih baik kedepan. Artinya, kunjungan tetap sepi sampai beberapa bulan ke depan, maka pihaknya juga melakukan penghematan, dan pengaturan dari segi saving energy .
Pemakaian listrik akan dikurangi sesuai dengan kebutuhan. Kalau tidak melalukan kerja atau sedang keluar ruangan, maka lampu dimatikan, lift dibatasi penggunaanya, sehingga mengurangi beban untuk listrik. Demikian pula dalam penggunaan air juga diketatkan.
Penghematan yang dilakukan, akan mirip-mirip seperti menghadapi pandemi Covid-19. Adanya pengaturan dana lagi. Walau demikian, bukan mengurangi gaji dan servis staf dan karyawan, tetapi pengaturan cost pengeluaran itu yang akan diatur dan diketatkan, sehingga bisa efisiensi.
Karta mengatakan, efisiensi anggaran dari pemerintah pusat ini akan berpengaruh pula pada persaingan bisnis hotel. Walau demikian pihaknya tidak akan melakukan penurunan harga kamar, karena akan susah menaikan kembali.
“Minimnya kunjungan akibat efisiensi dari pemerintah pusat itu, ternyata sudah ada teman yang melakukan penurunan harga kamar. Hal itu dilakukan, tentu dengan pertimbangan matang, sehingga masih bisa mengelola hotel di masa sulit ini,” pungkas Karta. [ana]


