DENPASAR, balitourismnow.com – Keindahan alam dan keunikan budaya Batak kini ada di Hotel Griya Santrian Sanur, Kota Denpasar – Bali. Suasana kota yang kental dengan keberagaman budaya dan tradisi Batak, aktivitas masyarakatnya serta adat istiadat yang kaya.
Alam dan budaya Batak itu disajikan dalam bentuk karya seni rupa yang memikat di Santrian Art Gallery yang masih berada di areal hotel tersebut. Sedikitnya ada 30 karya seni yang dipamerkan oleh 10 seniman di kawasan Danau Toba berkolaborasi dengan 5 seniman rupa Bali.
Pameran bertajuk Pertiwi Negeriku “Тoba Bali Art Project 2025”, Budaya Batak dan Alam Toba itu dibuka oleh Bernard Tampubolon, Jumat 11 Juli 2025. Pameran akan berlangsung hingga 30 Agustus 2025 untuk memberikan masyarakat Bali juga wisatawan menikmati sajian seni itu.
Pembukaan pameran dimeriahkan dengan Tari Sinanggar Tulo dan fashion yang menghadirkan designer Torang Sitorus dan Nick Djatnika. Sajian seni ini mendapat sambutan meriah dari pecinta seni, khususnya seni rupa.
Sebanyak 10 perupa asal itu terdiri dari Charis Martin Purba, Febrantonius Sinaga, Jeremy Pratama Manurung, Jesral Tambun Parulian Silaban, Adinda Cahaya Melati Purba, Angelina Ulibasa Butarbutar, Yon Riko Setiawan Pandiangan, Andy Boy Sianipar dan Aan Turnip
Sementara perupa Bali, yaitu Ni Ketut Ayu Sri Wardani, Gusti Ketut Oka Armini, I Made Astawa (Dollar), Willy Himawan dan I Made Palguna. Masing-masing perupa menyajikan sekitar 3-5 karya, sehingga total ada 50 karya, namun yang dipajang hanya 30 karya.
Wayan Seriyoga Parta, selaku curator mengatakan, pameran Toba – Bali Art Project merupakan rangkaian kegiatan seni rupa di Toba yang digagas oleh kelompok seniwati tergabung dalam Pertiwi.
Niatan baik ini kemudian disambut bersama para sahabat dan didukung oleh para sahabat dan berbagai pihak. Semuanya tergerak atas dasar semangat yang sama berkontribusi membangun kesenian di Toba khususnya seni rupa.
Program ini dimulai sejak bulan Maret 2023, merupakan bagian dari proyek Merajut Nusantara (Weaving The Colours of The Archipelago) melalui karya seni. Berawal dari napak tilas atas perjalanan rupa yang telah dimulai Erland Sibuea dan Ni Ketut Ayu Sri Wardani.

Ide Ayu Sri Wardani, pelukis Bali yang diberi marga boru Girsang) ini didukung oleh sosok sahabat Nick Djatnika dan Bernard Tampubolon yang ikut memainkan perannya dari jauh di Perth Australia.
Ayu Sri Wardanidisambut oleh Gusti Ketut Oka Armini, Ni Nyoman Sani dan serta ditemani kurator Wayan Seriyoga Parta. “Kami bersama-sama mengunjungi Danau Toba untuk merasakan keindahan alam dan spirit nilai-nilai luhur kebudayaan tua Toba,” kata Yoga Parta.
Mereka melakukan perjalanan, mengamati, merasakan, bersentuhan langsung dan menyerap keindahan alam dan kebudayaan Toba. Bersosialisasi, membuat workshop, edukasi ke sekolah dan masyarakat tentang Seni Rupa.
“Itu gayung bersambut, maksud baik kami disambut dengan antusias oleh berbagai pihak terutama para seniman Toba, sehingga terjalin kolaborasi yang penuh kehangatan dengan seniman-seniman di kawasan Danau Toba,” papar Ni Ketut Ayu Sri Wardani.
Mereka itu seperti fotografer Edward Tigor Siahaan, Sebastian Hutabarat, dan Charis Martin Purba. Termasuk seniman seperti Febrantonius Sinaga, Tunggul Panjaitan, Aan Turnip dan Jesral Tambunan seniman muda gorga (pande gorga), serta pelaku kreatif lainnya.
Atas inisiatif Sebastian Hutabarat (Toba Art Gallery) di Balige, turut merespon acara ini dengan membuat serangkaian program melibatkan seniman lokal, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), bersama guru-guru seni rupa, anak-anak sekolah dan masyarakat umum.
“Ide kemudian terkembang dari lawatan menjadi pameran bertajuk Pertiwi Negeriku Pameran Toba dilaksanakan tanggal 22 September – 25 Oktober 2023, secara serentak digelar pameran seni rupa di 7 (tujuh) Lokasi di Kawasan Danau Toba,” akunya polos.
Pameran itu mulai dari Kampus IT DEL Laguboti, Toba Caldera Resort (The Kaldera), Coffee Hotel Ayola Dolok Sanggul, Damar Toba Balige, Toba Art Gallery Balige, Piltik Coffee Silangit, dan Pondok Berata Dapdap Tarabunga.
Setiap venue lokasi pameran juga diselenggarakan sejumlah kegiatan termasuk jumpa seniman dan masyarakat, workshop seni rupa, serta edukasi ke sekolah dan masyarakat tentang Seni Rupa. “Program ini terbilang cukup ‘nekat’ dan tergolong ambisius,” ujarnya.
Respon tujuh venue yang begitu antusias dapat menjadi awalan yang baik untuk membangun infrastruktur dan mengembangkan suprastruktur Seni Rupa di Toba.
Program kembali berlanjut pada tahun 2024, tim Pertiwi yang tinggal berdua yaitu Ayu Sri Wardani dan Oka Armini kembali melakukan perjalanan ke Toba untuk kali ketiga, merasakan, bersentuhan langsung dengan talenta-talenta terpendam di Toba.
Dalam waktu yang singkat hanya membuat workshop seni rupa yang terfokus di Damar Toba. Mereka dapat bersua dengan lebih banyak seniman dan generasi muda pelaku kreatif asal Toba yang punya potensi dalam seni rupa dan aktif berkarya.
Mereka bersua dengan lebih banyak lagi talenta seniman Batak yang memiliki bakat seni terpendam. Seniman itu aktif berkarya dengan mengangkat tema alam dan kebudayaan Toba. “Kehadiran para seniman Toba membuat kami semakin optimis dapat memulai pergerakan bersama untuk berpameran keluar daerah,” papar Ayu Sri Wardani.
Akhir tahun mulailah gagasan untuk mengajak para seniman Toba berpameran di Bali, ide ini disambut baik oleh Made Dollar sebagai sesama seniman dan sekaligus pengelola Santrian Art Gallery Sanur.
Karya-karya dan mereka bersama difasilitasi untuk dapat berangkat ke Bali. Pameran seniman yang telah bereputasi Willy Himawan, Made Dollar Astawa, Made Arya Palguna dan tentunya Pertiwi yaitu Ayu Sri Wardani dan Oka Armini.
Pameran ini adalah medan untuk mempertemukan karya-karya seniman Toba dengan penghayatannya pada nilai estetika Toba, bersanding dengan karya-karya seniman nasional yang telah memiliki reputasi dalam medan seni rupa Indonesia.
Kehadiran karya-karya seniman Toba di Santrian Art Gallery ini mendapatkan apresiasi dalam skala yang tidak hanya lokal Bali, posisi Sanur destinasi pariwisata favorit menjadikan pameran juga diapresiasi oleh masyarakat global yang hadir menginap di Griya Santrian. [buda]


