TABANAN, balitouridmnow.com – Masih terasa kesan manis kunjungan budaya Menteri Kebudayaan Fadli Zon ke Kabupaten Tabanan, Jumat 5 September 2025 lalu. Perupa Tabanan menyambut dengan menggelar pameran seni bertajuk “Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi”.
Perupa Tabanan yang tergabung dalam “Maha Rupa Batukaru” menyajikan karya dengan merespon warna-warni daerah agraris. Pameran ini digagas oleh I Gusti Nengah Nurata dan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Tabanan disaksikan masyarakat seni.
Salah satu karya seni rupa yang paling menyita perhatian adalah “Blind in Paradise” karya seniman Tabanan, I Gede Made Surya Darma. Menteri Fadli Zon bersama Bupati Tabanan, Komang Sanjaya, sempat memberikan perhatian khusus terhadap karya tersebut.
“Blind in Paradise lahir sebagai kritik sekaligus otokritik terhadap kondisi Bali hari ini. Bali seakan berada dalam ‘zona nyaman’,” kata Surya Darma di tengah semarak acara pameran yang berlangsung sehari itu.
Karya ini menyoroti paradoks Bali modern, yaitu di satu sisi bergelimang dolar dan gemerlap pariwisata global, di sisi lain menghadapi ancaman serius terhadap kelestarian tanah, adat, dan budaya.

Sawah-sawah yang dulunya hijau kini beralih rupa menjadi bangunan komersial, sementara identitas agraris Bali semakin rapuh.
“Kita menikmati hiruk pikuk pariwisata, namun secara perlahan tanah leluhur dan pusaka agraris kita terkikis oleh alih fungsi lahan. Inilah kebutaan kolektif yang saya refleksikan dalam karya ini,” ungkapnya.
Di era digital, lanjut Surya Darma, permasalahan semakin kompleks. Platform pariwisata daring menciptakan perang harga yang memukul para pelaku lokal. Paket wisata dijual murah tanpa kendali, membuat stabilitas ekonomi masyarakat terguncang.
Pria yang dekat dengan dunia pertanian itu menilai, kondisi ini pada akhirnya juga memengaruhi kemampuan masyarakat Bali menjaga adat dan budaya yang selama ini dibiayai secara swadaya.
“Bagaimana masa depan masyarakat Bali ketika adat dan budaya harus berhadapan dengan kebutuhan hidup yang kian tinggi? Ada risiko nyata, warisan leluhur kita akan terdegradasi bahkan tersisih,” tambahnya.
Ironisnya, arah pariwisata Bali lebih banyak dikendalikan oleh pihak asing. “Seakan-akan masyarakat Bali dibuat untuk pariwisata, bukan pariwisata yang dibuat untuk masyarakat Bali,” tegas Surya Darma.
Lewat Blind in Paradise, Surya Darma mengajak publik untuk bercermin: di balik citra Bali sebagai “surga dunia”, ada kebutaan kolektif yang perlahan menggerus akar kehidupan dan jati diri orang Bali itu sendiri. [buda]


