MANGUPURA, balitourismnow.com – Persoalan sampah sebenarnya bukan fenomena baru bagi Bali. Secara historis, arus laut yang membawa sampah ke pesisir selatan Bali telah terjadi sejak era Majapahit. Fenomena ini bersifat siklus alam yang sebenarnya dapat diprediksi.
Hal itu terungkap pada acara digital Focus Group Discussion (FGD) melalui grup WhatsApp Indonesian Hotel General Manager Association Dewan Pimpinan Daerah (IHGMA DPD) Bali, Sabtu 7 Pebruaru 2026. Dalam FGD itu, anggota IHGMA ini menyampaikan keprihatinannya.
Diskusi rutin itu diinisiasi oleh General Manager (GM) Whyndam Garden Kuta, Bagus Ngurah dan diikuti oleh Ketua Umum IHGMA DPD Bali Komang Artana, GM Anantara Club Made Subrata yang juga Ketua BPC IHGMA Badung dan para GM lainya.
Digital FGD mengangkat topik “Refleksi Pengelolaan Sampah Pantai dan Tantangan Keberlanjutan Pariwisata Bali” yang kembali menyoroti isu klasik, namun krusial dalam keberlanjutan pariwisata Bali, yaitu pengelolaan sampah.
Utamanya, pengelolaan sampah di kawasan pantai yang menjadi ikon utama penghasil Pendapatan Daerah (PAD) dan daya tarik wisata global.
“Fenomena sampah ini sesungguhnya bersifat siklus alam yang dapat dikelola secara sistematis melalui perencanaan rutin dan berkelanjutan,” kata Gede Riky Sukarta.
Dari perspektif industri hospitality, jelas Gede Riky Sukarta, muncul perbandingan menarik bahwa hotel-hotel secara konsisten mengalokasikan sumber daya manusia dan biaya operasional untuk memastikan kebersihan area tetap terjaga setiap hari.
Hal ini memunculkan pertanyaan reflektif mengenai kemungkinan penerapan pendekatan manajemen serupa pada pengelolaan kebersihan pantai di wilayah Badung, mengingat pantai merupakan “etalase” utama pariwisata Bali.
Diskusi ini juga mengangkat tantangan yang dihadapi pemerintah daerah, termasuk keterbatasan anggaran, kebutuhan alat berat, serta kecukupan sumber daya manusia.
“Walaupun beberapa fasilitas, seperti mesin pembersih pantai telah tersedia dan beroperasi, implementasi di lapangan masih menghadapi kendala operasional, koordinasi, dan kesinambungan program,” ungkap Bagus Ngurah.
Diskusi itu juga menyebutkan, dukungan industri selama ini lebih banyak bersifat sporadis, sementara persoalan sampah berlangsung secara harian dan musiman, terutama pada periode Desember hingga Maret.
Peserta FGD kemudian sepakat bahwa solusi tidak hanya terletak pada peningkatan program diskusi, namun perlu berfokus pada implementasi berbasis sistem yang mencakup penjadwalan rutin, kolaborasi lintas sektor, penguatan pengelolaan sumber sampah, serta pemanfaatan teknologi pengolahan sampah yang lebih modern dan efektif.
Komang Artana kemudian mengatakan, dalam refleksi yang lebih mendalam, diskusi juga memunculkan pertanyaan filosofis: apakah permasalahan ini merupakan kelemahan sistem, keterbatasan kemauan (willingness) dalam tata kelola atau justru sebuah ujian bersama bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kesadaran kolektif terhadap keberlanjutan Bali.
Tak hanya Komang Artana, sebagian peserta memandang, fenomena ini dapat menjadi momentum pembelajaran bersama.
“Tantangan lingkungan mengingatkan seluruh pihak untuk kembali pada nilai dasar kehidupan manusia: membangun karakter yang sejati, baik, sabar, dan bertanggung jawab terhadap keseimbangan alam,” ucapnya.
Pariwisata Bali, jelas Komang Artana, tidak hanya membutuhkan strategi ekonomi, tetapi juga kesadaran spiritual dan moral dalam menjaga warisan alam dan budaya.
FGD digital ini seakan menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, industri pariwisata, masyarakat, dan komunitas lokal dalam menciptakan sistem pengelolaan lingkungan yang konsisten, terstruktur, dan berkelanjutan.
“Dengan pendekatan kolaboratif, kami berharap Bali dapat terus mempertahankan posisinya sebagai destinasi kelas dunia yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga kuat dalam tata kelola lingkungan dan nilai-nilai kearifan local,” harap Komang Artana.
Sementara Made Subrata memaparkan, Anantara Vacation Club (AVC) memiliki komitmen terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporative Social Responsibility). Karena itu, AVC selalu aktif berpartisipasi kegiatan peduli lingkungan.
“Anantara secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong bersama para pemangku kepentingan pariwisata,” ucap GM Anantara Club yang GM Anantara Club ini.
Kegiatan ini menjadi wujud nyata kepedulian AVC dalam menjaga kebersihan, kelestarian lingkungan, serta memperkuat kolaborasi lintas komunitas.
Partisipasi AVC juga sejalan dengan nilai-nilai perusahaan yang menempatkan keberlanjutan, kebersamaan serta kontribusi positif bagi destinasi sebagai bagian penting dari operasional bisnis.
Melalui kegiatan gotong royong ini, AVC berharap dapat terus berkontribusi secara konsisten, tidak hanya sebagai pelaku industri pariwisata. Ini juga sebagai bagian dari masyarakat yang turut menjaga citra dan kualitas destinasi pariwisata Bali.
“Kehadiran rekan-rekan dari IHGMA dalam kegiatan ini semakin memperkuat sinergi antara pelaku industri perhotelan dalam mendukung pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan,” sebut peserta diskusi kompak. [buda]


