Art & Culture

Bongsan Talchum Memukau Panggung PKB 2026, Perkuat Diplomasi Budaya Bali–Korea Selatan

DENPASAR, balitourismnow.com – Puluhan mahasiswa Seoul Institute of the Arts, Korea Selatan, menampilkan pertunjukan tari dan teater topeng tradisional Bongsan Talchum di panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, Kamis 2 Juli 2026.

Penampilan kesenian tradisional dari Negeri Ginseng tersebut menjadi ruang perjumpaan budaya yang mempererat hubungan seni antara Indonesia dan Korea Selatan. Pertunjukan berlangsung di Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali dengan meriah dan memukau.

Sebagai salah satu seni teater topeng paling bergengsi di Korea Selatan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional, Bongsan Talchum menghadirkan perpaduan tari, musik, dialog, dan akting yang enerjik serta sarat kritik sosial.

Ekspresi para pemain, iringan musik tradisional, dan gerak tari yang dinamis menjadikan pertunjukan terasa hidup sekaligus komunikatif bagi penonton lintas budaya.

Kurator PKB, Prof. Dr. I Wayan Dibia, mengatakan kehadiran mahasiswa Korea Selatan di PKB merupakan buah dari kerja sama seni dan budaya yang terus berkembang antara Bali dan Korea Selatan.

Menurutnya, pertunjukan tersebut tidak hanya memperkenalkan kekayaan seni tradisi Korea kepada masyarakat Bali, tetapi juga memperkuat hubungan budaya kedua negara melalui dialog dan pertukaran seni.

Bongsan Talchum merupakan drama tari topeng tradisional yang telah berkembang selama berabad-abad. Pertunjukan ini memadukan tari, musik, dialog, serta improvisasi sebagai media kritik sosial yang dikemas melalui humor dan satire.

Di balik unsur hiburannya, Bongsan Talchum merefleksikan dinamika kehidupan masyarakat, relasi sosial, hingga nilai-nilai kemanusiaan yang tetap relevan hingga kini.

Dalam pementasan di PKB XLVIII, mahasiswa Seoul Institute of the Arts membawakan empat adegan utama. Pertunjukan diawali dengan Sasangjwa-chum atau Tari Empat Biksu sebagai simbol doa memohon berkah dan keselamatan.

Adegan kemudian berlanjut ke Nojang-chum, yang mengisahkan seorang biksu tua menghadapi godaan duniawi melalui sosok perempuan muda bernama Somu.

Selanjutnya, Chibari-chum menghadirkan tokoh rakyat jelata yang akhirnya berhasil memenangkan hati Somu. Adegan ini melambangkan pembaruan, harapan, dan lahirnya generasi baru.

Pementasan ditutup dengan Saja-chum dan Daedong-nori, tarian perayaan yang mengajak penonton ikut menari bersama sebagai simbol kebersamaan, persatuan, dan harmoni.

Selain alur cerita yang kaya makna, kekuatan Bongsan Talchum juga terletak pada karakter topeng yang ekspresif, koreografi yang dinamis, serta iringan musik tradisional Korea yang ritmis.

Perpaduan unsur-unsur tersebut menghadirkan pengalaman pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi media penyampaian pesan sosial dan budaya yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan.

Prof. Dibia menjelaskan, kehadiran rombongan seni dari Seoul Institute of the Arts tidak terlepas dari kerja sama akademik antara institusi tersebut dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Bali yang telah terjalin melalui nota kesepahaman kedua perguruan tinggi.

Sebelumnya, Prof. Dibia memenuhi undangan Seoul Institute of the Arts di Ansan, Korea Selatan. Sejak Mei 2026, ia memberikan lokakarya Tari Kecak kepada sekitar 40 mahasiswa sebagai bagian dari persiapan mereka tampil di PKB XLVIII.

Pelatihan tersebut menjadi fondasi lahirnya kolaborasi seni Bali dan Korea Selatan yang akan kembali dipentaskan di hadapan publik internasional dalam rangkaian PKB XLVIII. Kolaborasi itu dijadwalkan berlangsung pada Rabu 8 Juni 2026 di Gedung Ksirarnawa.

Melalui pertukaran seni ini, PKB XLVIII kembali menegaskan perannya sebagai panggung diplomasi budaya dunia.

Festival ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga wadah yang mempertemukan tradisi dari berbagai bangsa dalam semangat saling belajar, saling menghargai, serta mempererat persahabatan antarnegara melalui bahasa universal seni dan budaya. [darma]

Shares: