Art & Culture

Jika Dipromosikan, Dharmawacana Bahasa Inggris Bisa Menjadi Atraksi Budaya Menarik Bagi Wisatawan

DENPASAR, balitourismnow.com – Lomba Dharmawacana Bahasa Inggris kategori remaja putra dalam Utsawa Dharma Gita (UDG) ke-32 yang berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Art Center (Taman Budaya) Bali, bisa dikemas sebagai atraksi budaya bagi wisatawan mancanegara.

Sebab, para remaja itu menampilkan metode ceramah agama yang mengupas nilai-nilai ajaran agama untuk memberikan pemahaman, pencerahan, dan nasihat spiritual kepada umat dengan menggunakan Bahasa Inggris. Apalagi disajikan dengan penataan busana, vocal, gerak serta ekspresi yang lebih hidup.

“Tahun depan, kami ingin memperkenalkan lomba ini melalui biro perjalanan. Ini sejalan dengan konsep pariwisata budaya Bali dan akan memperkuat citra anak muda Bali yang berkarakter lokal, berwawasan global,” kata Ketua Tim Juri, Dr. I Ketut Sutama, Minggu 26 Oktober 2025.

Para peserta tampil mempesona. Kata-katanya lugas, vokalnya jelas dan pesan yang disampaikan begitu kuat. Apalagi, dibarengi rasa percaya diri, sehingga salah satu metode pengajaran agama Hindu secara lisan melalui ceramah atau pidato itu menjadi sebuah pertunjukan seni yang menarik.

BACA JUGA:  Festival Konservasi Lontar di Kabupaten Buleleng Berhasil Identifikasi 12 Cakep Lontar

Kegiatan Dharmawacana Bahasa Inggris ini menjadi jembatan penting untuk membawa UDG ke level internasional.

“Kalau ingin Utsawa Dharma Gita mendunia, inilah jalannya. Suatu saat peserta dari negara lain seperti Afrika, Amerika, atau Australia bisa ikut, karena menggunakan bahasa global,” lanjutnya berharap.

Dharmawacana Bahasa Inggris menuntut kemampuan ganda—peserta harus fasih berbahasa asing sekaligus menguasai sloka-sloka suci.

Mereka membaca kutipan dari Bhagavad Gita dan menerjemahkannya dalam Bahasa Inggris agar maknanya mudah dipahami oleh pendengar dari berbagai latar belakang.

BACA JUGA:  Sherry Winata Pamerkan ‘Inner Sacred Alchemy’ di Museum Puri Lukisan: Sajikan Karakter Visual Melalui Proses Transformasi Spiritual

Sutama kemudian mengaku bangga terhadap semangat generasi muda yang tetap menjaga akar budaya di tengah globalisasi. “Mereka berpikir internasional tapi tetap bertindak sebagai orang Bali yang mencintai budayanya. Ini modal besar untuk masa depan,” ungkapnya.

Lomba Dharmawacana Bahasa Inggris kategori Remaja Putra ini menghadirkan nuansa baru. “Para peserta tampil penuh percaya diri, memadukan kemampuan berbahasa Inggris dengan penguasaan nilai-nilai spiritual Hindu,” sebut Sutama.

Hal senada disampaikan Prof. Dr. Ni Ketut Dewi Yulianti, anggota dewan juri. Ia menilai penguasaan Bahasa Inggris para peserta luar biasa.

“Dulu anak-anak takut berbahasa Inggris. Sekarang, dengan media sosial dan motivasi tinggi, mereka tampil percaya diri dan mampu berbicara dengan penghayatan,” ujarnya.

BACA JUGA:  ARMA FESTIVAL 2024, Bentuk Nyata Pelestarian Seni dan Budaya Bali

Menurutnya, Dharmawacana bukan hanya soal berbicara, tetapi juga seni menyentuh hati pendengar. “Anak-anak ini berhasil memikat perhatian juri dan penonton dengan kepercayaan diri dan penguasaan materi yang sangat baik,” tambahnya.

Ppara peserta mengupas nilai-nilai dalam ajan yang diikuti oleh 5 peserta merupakan perwakilan dari kabupaten dan kota di Bali. Meski, ada kabupaten absen, namun penampilan mereka mampu menyedot perhatian penonton.

Para peserta yang tampil itu benar-benar mampu menyajikan yang terbaik, sehingga penonton merasakan pesan yang disampaikan melalui pencerahan, pengetahuan dan bimbingan mengenai ajaran agama itu.

Para peserta yang tampil kali ini semakin matang dan penuh semangat. Bahkan, penampilan peserta tahun ini boleh dikatakan mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan ajang yang sama di tahun sebelumnya.

BACA JUGA:  Enam Lomba dan Satu Festival Serentak di Bulan Bahasa Bali 2026

Hanya saja, perlu perhatian karena jumlah peserta menurun, hanya diikuti lima remaja putra. Lomba Dharmawacana Bahasa Inggris ini menegaskan satu hal, yaitu generasi muda Bali siap mendunia tanpa kehilangan jati dirinya — berbicara tentang Dharma dalam bahasa dunia, dengan jiwa dan semangat budaya Bali yang tetap menyala.

Dari lima peserta yang tampil, Kabupaten Badung berhasil merebut Juara I, disusul Kabupaten Karangasem (Juara II) dan Kota Denpasar (Juara III). Sementara Harapan I dan Harapan II masing-masing diraih oleh Kabupaten Jembrana dan Kota Denpasar. [buda]

Shares: