Wisatawan Mancanegara (Wisman) yang berwisata ke Bali, tak hanya tertarik dengan pemandangan alam, pantai eksotik atau pertunjukan seni yang unik, tetapi terpikat pula dengan aktivitas para petani, khususnya petani kopi robusta, mulai dari menanam hingga memetik.
Maka jangan heran, petani kopi robusta di Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali tiba-tiba menjadi daya tarik wisata. Puluhan wisman asal Prancis berkunjung untuk mengenal lebih dekat cara para petani di Bali memproduksi kopi yang sangat terkenal itu.
“Kami telah dikunjungi sebanyak 40 petani asal Prancis untuk melihat secara langsung aktivitas kami bertani kopi, mulai dari budi daya sampai proses pengolahan menjadi kopi yang siap seduh,” kata Ketua Yayasan Bhakti Petani Nusantara I Gede Suarsa, Senin 27 Januari 2025.
Petani asing itu memberikan apresiasi terhadap cara petani kopi di Desa Pujungan dalam memproduksi kopi, khususnya jenis Robusta. Mereka juga merasa senang dengan pola petik buah merah, sebagai upaya menciptakan kualisa kopi yang baik.
“Ini sebuah kalaborasi antara Yayasan Bhakti Petani Nusantara bersama UD Cipta Lestari perusahaan kopi premium dan Kopi Bali 88 untuk bersama-sama memajukan perkebunan kopi robusta petik buah merah dan tanpa pestisida,” papar mantan pekerja pariwisata itu.
Para petani gandum di Prancis ini sangat tertarik dengan aktivitas budaya berkebun, seperti menanam kopi. Disamping menyempatkan diri berbincang-bincang dengan para petani kopi, mereka juga mengunjungi pura subak yang sangat terkait dengan aktivias petani di desa itu.
“Artinya, konsep petani di Desa Pujungan yang menerapkan ajaran Tri Hita Karana menjadi menarik bagi mereka. Kebun, lahan pertanian memanfaatkan pupuk organik, para petani menjaga kebersamaan, dan pura subak yang selalu dijaga hubungan harmonisnya,” terang Ketua MPIG Robusta Pupuan I Wayan Dira.

Ketika disajikan menu kopi, mereka sangat menikmati budidaya kopi itu. Termasuk makanan yang disiapkan oleh para petani dengan bahan 100 % local tanpa pestisida. “Mereka juga menikmati keramah-tamahan para petani, serta semangatnya yang kuat,” lanjut owner pengusaha kopi UD Cipta Lestari itu.
Apalagi, saat berada di areal subak, para wisatawan ini disuguhi pemandangan alam desa yang asri dan indah, disamping aktivitas budaya masyarakat local yang terasa sangat kental. “Kami sempat membicarakan penginapan saat kunjungan mereka ke depannya,” imbuhnya.
Artinya, ketika mereka melakukan kunjungan nanti, maka akan pertani di Desa Pujungan ini menyiapkan untuk mereka, seperti bisa menginap di rumah petani atau penduduk, berkebun dan ikut dalam aktivitas budaya yang dilakukan oleh masyarakat setempat.
Suasana akrab kemudian terjadi ketika para petani kopi di Desa Pujungan menyajikan makanan, sebagai santap bersama. Menunya mujair nyat nyat, rebung, sate lilit, jukut pusuh (sayur bunga pisang), daging sisit ayam, sambal bongkot serta buah manggis dan salak dipetik di kebun petani.
Para wisatawan itu juga disuguhkan minuman tradisional berupa loloh, seperti minumjan jamu jahe dan jamur kunir. Makanan traditional ini disiapkan oleh para petani dari bahan lokal serta masakan local. [BTN/ana]


