DENPASAR, balitourismnow.com – Ini kolaborasi yang sangat indah dan bermakna. Utama Spice, merek wellness berbasis di Bali menggandeng petani berdedikasi, Nyoman Suma Artha untuk menciptakan produk perawatan kulit alami yang ramah lingkungan.
Disamping karena komitmen, hal itu juga karena semakin meningkatnya permintaan akan produk kecantikan berbahan alami dan berkelanjutan. Apalagi, di Bali, di mana pertanian regeneratif semakin penting, sebuah revolusi tenang dalam pertanian berkelanjutan tengah berlangsung.
“Bertani bukan sekadar menanam, tapi juga menjaga cara hidup,” kata Nyoman Suma Artha yang memiliki tekad untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan dan stabil, Rabu 26 Maret 2025.
Nyoman Suma Artha yang bergerak di pusat, dengan ladang patchouli organiknya menjadi dasar bagi produk alami Utama Spice. Bahkan, lebih dari sekadar pemasok, ia adalah pelopor pertanian etis, berupaya memastikan metode tradisional terus berkembang tanpa kehilangan jiwanya.
Perjalanan Nyoman Suma Artha dimulai pada tahun 2000, ketika ia melihat langsung tantangan yang dihadapi petani local yaitu harga yang fluktuatif, hasil panen yang tidak menentu, dan semakin pudarnya pengetahuan pertanian warisan leluhur.

Nyoman Suma Artha memiliki tekad menciptakan masa depan lebih berkelanjutan dan stabil, sehingga membangun jaringan petani kecil yang menerapkan teknik organik dan regeneratif, memastikan kualitas hasil panen sekaligus menjaga kesehatan tanah untuk generasi mendatang.
“Kemitraan kami dengan Utama Spice didasarkan pada nilai-nilai yang sama, memberdayakan komunitas, melestarikan alam, dan memastikan setiap panen membawa cerita tentang tradisi, kepedulian, dan keberlanjutan,” paparnya ramah.
Menyempurnakan Tradisi untuk Masa Depan Berkelanjutan
Kolaborasi antara Utama Spice dan pertanian Nyoman Suma Artha telah melahirkan teknik bertani inovatif yang tetap berakar pada tradisi, menggabungkan efisiensi modern dengan kearifan leluhur.
Para petani menyempurnakan metode tanam, meningkatkan pengelolaan tanah, dan menerapkan teknik panen yang lebih presisi, menghasilkan panen yang lebih melimpah, tanaman yang lebih kuat, serta pendapatan yang lebih stabil bagi komunitas lokal.
Namun, perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Bertani patchouli membutuhkan ketelitian dari pemilihan bibit yang tepat, budidaya yang sensitif terhadap iklim, hingga proses pasca-panen yang presisi untuk menghasilkan minyak esensial berkualitas tinggi.
“Pola cuaca yang tidak menentu juga semakin menegaskan pentingnya keberlanjutan, mendorong penerapan praktik pertanian yang lebih tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim,” jelas Nyoman Suma Artha.
Filosofi Dari Kebun ke Kulit
Mungkin tak banyak yang mengetahuinya, dampak kemitraan ini melampaui ladang dan sampai ke tangan para konsumen yang peduli.
Rangkaian produk berbahan dasar patchouli dari Utama Spice, termasuk Begone Bug, Patchouli Essential Oil, Senja Hair Oil, Bliss Botanical Face Wash, dan Bliss Body Butter, membawa manfaat botani Bali ke dalam ritual perawatan diri sehari-hari.
Lebih dari sekadar produk, setiap botol menyimpan kisah tentang sumber bahan yang etis, upah yang adil, dan komitmen terhadap keberlanjutan. Kolaborasi ini mencerminkan sesuatu lebih besar, yakni komitmen terhadap sumber bahan yang etis, keberlanjutan, dan pemberdayaan komunitas.
Dengan memberikan pendapatan yang adil dan stabil bagi para petani, Utama Spice dan Nyoman Suma Artha memastikan bahwa pertanian tradisional tidak hanya bertahan hari ini, tetapi juga berkembang untuk generasi mendatang.
“Saya akan memperluas lahan pertanian khusus untuk Utama Spice, memastikan transparansi dan keberlanjutan yang lebih baik. Saya tengah bereksperimen dengan jahe aromatik, kunyit, dan tanaman asli lainnya, membuka jalan bagi generasi baru bahan-bahan wellness yang ditanam di Bali,” tekadnya.
Melalui kolaborasi ini, Utama Spice dan Nyoman Suma Artha membuktikan bahwa keberlanjutan bukan sekadar tren, melainkan cara hidup. Setiap pembelian mendukung gerakan ini, membawa esensi alam dan tradisi Bali ke seluruh dunia, satu tetes pada satu waktu.
“Banyak petani yang dulu menghadapi ketidakstabilan finansial kini memiliki pendapatan yang lebih pasti dan masa depan yang lebih kuat. Bertani bukan hanya soal menanam, tapi juga membangun warisan yang bertahan lama,” pungkas Nyoman Suma Artha. [ana]


