GIANYAR, balitourismnow.com – Harmoni itu berasal dari diri sendiri. Termasuk dalam keluarga, lingkungan kerja, kemudian meluas ke masyarakat. Jika belum mampu menciptakan harmoni dalam dirinya, maka akan sulit mewujudkannya dalam skala yang lebih besar.
Hal itu disampaikan Gede Paskara Karilo selaku Ketua Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Gianyar diskusi mengenai pariwisata yang harmonis sebagai upaya membangun pariwisata berkelanjutan bagi destinasi bersama, Rabu, 30 April 2025.
Diskusi itu merpakan kolaborasi antara Ubud Hotel Association (UHA), PHRI Gianyar, BPPD Ubud, dan Booking.com. Selain Gede Paskara Karilo, diskudi ini juga menghadirkan Cok Putra Sukawati selaku Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Ubud sebagai narasumber.
Selain itu, Gegen Sumarjana selaku Country Area Manager Indonesia dari Booking.com, serta Wakil Bupati Gianyar diwakili oleh Wayan Sedana Putra selaku Kepala Dinas Pariwisata Gianyar dan Ketua UHA, Putu Surya Arysoma turut hadir dan memberikan pandangannya.
Pariwisata Bali yang berlandaskan budaya Bali, sehingga hubungan yang harmoni antara sesama, antara manusia dengan alam juga dengan Tuhan. “Harmoni itu berasal dari diri sendiri,” tegas Karilo yang disambut setuju oleh seluruh panelis.
Lalu, Kepala Dinas Pariwisata, Sedana Putra menanggapi isu penurunan tingkat hunian pada kuartal pertama tahun 2025. Hal ini merupakan tantangan bersama, yang salah satunya disebabkan oleh keterbatasan promosi.
“Hal itu juga karena banyak muncul destinasi-destinasi baru serta strategi promosi yang lebih agresif yang dilakukan dari negara-negara pesaing Bali,” sebutnya.
Cok Putra kemudian menegaskan, keberlanjutan sudah menjadi bagian dari pariwisata Bali dan Ubud melalui penerapan nilai-nilai Tri Hita Karana. Saat ini, tantangan semakin besar dalam menjaga keseimbangan antara estetika, etika, dan logika dengan kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) di dunia kerja.
“Kehadiran AI ini turut memengaruhi hubungan antarmanusia. Maka itu, masi semua pihak untuk merenungkan siapa yang akan mampu menjaga budaya di tengah arus bisnis dan modernisasi yang terus berkembang,” ajaknya.
Selanjutnya, Gegen memaparkan tren dan harapan wisatawan di masa depan. Maka penting menangani masalah kemacetan, kebersihan destinasi, serta mempertahankan budaya lokal sebagai daya tarik utama.
“Saya merasa optimis terhadap peningkatan jumlah kunjungan pada kuartal kedua, terutama dari negara-negara seperti India, Korea Selatan, dan lainnya. Hal itu, terlihat dari data pemesanan melalui platform daring,” imbuhnya meyakinkan.
Di bagian akhir, Putu Surya Arysoma mengatakan, diskusi ini penting dilakukan agar semua orang mampu menjaga budaya dan nilai-nilai harmoni, sehingga pariwisata berkelanjutan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
“Ini bukanlah tanggung jawab pemerintah semata, tetapi tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan, demi masa depan pariwisata yang menjanjikan untuk kita semua,” pungkas Ketua UHA itu. [ana]


