MANGUPURA, balitourismnow.com – Sebagai destinasi dunia, Bali sejak dulu telah ditetapkan sebagai destinasi Pariwisata Budaya. Artinya, semua kebijakan dapat memperkuat dan mempromosikan kekayaan budaya, adat istiadat, dan seni sebagai daya tarik utama.
Kebijakan tersebut tentu bertujuan untuk melestarikan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ketika pariwisata Bali itu berkembang, maka budaya Bali mestinya semakin maju dan lestari, bukannya mengikis keaslian dan mengganggu kelestarian lingkungan.
Guru Besar Pariwisata Universitas Udayana (Unud) Prof. Dr. I Putu Anom M.Par, mengatakan, secara formal Bali masih mengembangkan Pariwisata Budaya sesuai peraturan daerah, dengan daya tarik utama pada kekayaan budaya yang terus dilestarikan di samping keindahan alamnya.
“Tetapi, realitanya dalam dua dasawarsa terakhir mulai berkembang daya tarik wisata buatan. Hal itu sangat jauh dari konsep pariwisata budaya, dan malahan banyak akomodasi yang dikemas dengan konsep lain dalam bangunan fisik dan operasionalnya,” kata Prof. Anom, Sabtu 18 Oktober 2025.
Prof. Anom kemudian mengatakan, kondisi pariwisata Bali kini telah banyak yang disesuaikan dengan selera pasar. Belakangan, semakin berkurang wisatawan yang diajak menonton pentas budaya, menyaksikan tarian tradisional Bali yang mencerminkan identitas budaya Bali.
Pengelola pariwisata, seperti hotel dan pengelola industry lainnya seringkali menampilkan kesenian bernuansa modern, bukan lagi kesenian tradisional Bali. Dulu, sekitar tahun tahun 90-an, sangat mudah menemukan pertunjukan kesenian tradisional di hotel-hotel.
Pesatnya kemajuan pariwisata, memberi dampak terhadap orang Bali, sehingga tidak memiliki waktu yang banyak untuk melakukan aktivitas budaya. Di tengah kesibukan orang, kini sarana upacara dan upakara bisa didapat dengan cara membeli, sehingga lebih mudah dan cepat.
“Inilah kondisi riil, karena keterbatasan sarana bahan baku dan yang utama keterbatasan waktu. Orang Bali harus ikut sibuk bekerja di sektor modern. Jika tidak ikut seperti itu, tentu akan ketinggalan dalam merebut peluang kerja yang tersedia saat ini,” ucap Prof. Anom.
Artinya, pelung kerja yang lebih banyak dan lebih cepat mendatangkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin komplek, dengan harga produk barang dan jasa segala jenis yang harganya semakin melambung tinggi.
“Inilah resiko yang dihadapi umat Hindu Bali yang hidup di destinasi yang mendunia, sehingga harus menerima harga yang mahal, seperti di kota-kota besar,” pungkas Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Wilayah Bali itu. [buda]


