DENPASAR – balitourismnow.com – Anak-anak ini belajar dengan gembira. Mereka tak tampak tegang, apalagi takut. Mereka bahkan saling rebutan menjawab pertanyaan, dan dengan bangga dalam bertanya. Saat jawabannya salah, mereka tetap tenang dan menanyakan yang benar.
Itulah kegiatan “Malajah Sambil Maplalianan” serangkaian Bulan Bahasa Bali VIII yang mampu menciptakan ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak. Mereka, tampak senang dan tanpa beban dalam mengungkapkan argumen.
Riang dalam menjawab pertanyaan, dan senang dalam bertanya. Semuanya berebut ketika mencoba dalam pratek atau menjawab pertanyaan. Mereka seakan mengetahui, bahwa saat belajar itu tidak ada yang salah.
Kegiatan “Malajah Sambil Maplalianan” atau “Maplalian sambil malajah literasi numerasi, literasi budaya” itu berlangsung di Taman Budaya, Art Center, Senin 2 Pebruari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan anak-anak setingkat Sekolah Dasar (SD) dari sekitaran Kota Denpasar.
[irp]
Sementara narasumber dipercayakan kepada Dr. Gek Diah Desi Sentana SS. M.Hum dan Ni Nyoman Tri Wahyuni Spd.Mpd. dari Kampus Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
Kegiatan ini dimulai dari mesatwa (bercerita Men Tiwas Men Sugih untuk membangkitkan rasa senang dari anak-anak. Mereka tampak serius mendengarkan cerita rakyat yang sudah lumrah di kalangan masyarakat Bali.
Mereka tampa serius, buktinya mereka bisa membedakan karakter dari setiap tokoh, bahkan mampu mengambil amanat dari cerita tersebut.
Pada pembelajaran berikutnya, anak-anak diperkenalkan jenis bebungkilan, warna, aroma serta manfaatnya. Ada empat jenis bebungkilan yang doperkenalkan yaitu, jae (jahe), isen (lengkuas), kunyit (kunir) dan cekuh (kencur).
[irp]
Tak hanya itu, anak-anak juga diajak mengenal tentang perubahan daun kelapa lengkap dengan manfaatnya. Mulai dari busung, lalu menjadi rempela, menjadi slepan hingga menjadi danyuh.
Misalnya segehan mebucu telu, itu pembelajaran literasi nomerasi dasar yang memahami tentang jumlah angka dan lainnya. Demikian juga dalam membuat ceper, bukan hanya literasi budaya tetapi literasi nomerasi tentang buju 4.
Anak-anak diberikan bahan, busung dan slepan, kemudian mencoba merangkai menjadi ceper. Busung untuk metanding canang, rempele untuk bahan segehan dan slepan untuk membuat aled dan danyuh untuk obor. “Ini pembejalaran literasi nomerasi,” ujarnya.
Selain itu, mereka juga dilatih membuat tipat taluh. Pembelajaran kemudian diakhir dengan melakukan permainan Keranjang Duren.
[irp]
Kepala Bidang Sejarah dan Dokumentasi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Made Dana Tenaya mengatakan, untuk kegiatan “Malajah Sambil Maplalianan” hari ini mengundang sebanyak 35 anak yang merupakan siswa SD di sekitaran Kota Denpasar.
“Kegiatan ramah anak ini merupakan kali kedua dalam ajang Bulan Bahasa Bali,” ucap Dana Tenaya.
Pada Bulan Bahasa Bali tahun lalu, Malajah Sambil Maplalianan ini hanya bisa melaksanakan sebanyak 7 kali. Namun, sekarang ini dilaksanakan setiap hari selama sebulan penuh dengan mendatangkan anak-anak dari berbagai sekolah.
Sementara narasumber dari perguruan tinggi dan tokoh. Kegiatan ramah anak manfaatnya sangat besar sekali. “Kegiatan ini untuk mengajarkan mereka belajar sampil mepalayanan, teori yang langsung dengan prateknya,” ungkap Dana Tenaya.
[irp]
Gek Diah mengatakan, antosias anak-anak mengikuti kegiatan “Malajah Sambil Maplalianan” ini cukup tinggi. Di awal mereka tidak bisa membayangkan akan mengikuti kegiatan belajar budaya yang ringan dan sangat menyenangkan.
“Diawal mereka tidak terbayang, setelah mengikuti kegiatan belajar budaya mereka sangat senang,” ungkapnya.
Menurutnya, saat mesatwa tetap menyelipkan lelucun sekaligus pertanyaan agar mereka lebih focus, sekaligus untuk mengingatkan mereka para tokoh, alur cerita serta pesan-pesan yang ada.
Hal itu juga sebagai cara untuk menjaga konsentrasi anak-anak, sehingga pikiran mereka focus pada kegiatan tersebut.
[irp]
Saat memasuk pembelajaran mengenal “babungkilan” (umbi-umbian bahan bumbu) dengan mencocokan gambar bumbu dengan bumbu aslinya. Pada kesempatan itu, anak-anak dikenalkan 4 jenis babungkilan, mulai dari jae (jahe), isen (lenkuas), kunyit (kunir) dan cekuh (kencur).
“Mereka diajak mengenal jenis babungkilan itu mulai dari bentuk, warna dan aromanya, serta manfaatnya,” paparnya. [buda]


