Art & Culture

Desa Adat Batur ‘Ngruwak’, Awali Pembangunan Cihna di Titik Nol Batur Let

BANGLI, balitourismnow.com – Masyarakat adat Batur akan memperingati Seratus Tahun Rarud Batur pada Agustus 2026 mendatang. Serangkaian peringatan itu, diawali dengan membangun Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let.

Titik Nol Batur Let merupakan pusat permukiman Desa Adat Batur sebelum ditelan lahar Gunung Batur pada erupsi tahun 1926. Upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna dilaksanakan pada Senin, 4 Mei 2026.

“Titik Nol Batur Let merujuk kawasan eks Meru Tumpang Solas Pura Ulun Danu Batur di Desa Batur sebelum tahun 1926. Titik ini disepakati sebagai pusat permukiman Desa Batur Let sebelum 1926,” kata Pamucuk Desa Adat Batur, Jero Gede Duhuran Batur.

Kawasan tersebut terletak di barat daya Gunung Batur di kawasan Kaldera Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli. Pada Agustus 1926, letusan besar Gunung Batur menelan kawasan permukiman Desa Batur Let bersama dengan Pura Ulun Danu Batur dan pusat publik lainnya.

Sementara itu, masyarakat diungsikan bersama dengan benda-benda sakral dan tinggalan bersejarah lainnya hingga akhirnya direlokasi ke tempat permukiman baru di Desa Adat Batur saat ini.

“Penetapan titik nol ini merupakan hasil dari proses panjang selama hampir sembilan tahun sejak 2017,” lanjut Jero Gede Duhuran Batur.

Penentuan lokasi dilakukan dengan menggabungkan dua metode, yakni metode ilmiah melalui pemanfaatan data dokumentasi foto zaman Belanda dan pendekatan spiritual untuk memastikan keaslian lokasi Meru Tumpang Solas yang menjadi jantung peradaban Batur di masa lalu.

“Cihna yang berupa palinggih padmasana dan bebaturan itu dibuat untuk mengenang perjalanan leluhur Batur. Tanda tersebut diharapkan dapat menjadi media edukasi tentang perjalanan sejarah Batur yang panjang,” jelasnya.

Ke depannya, jelas tokoh adat-agama yang juga Pangemong Pura Ulun Danu Batur ini, generasi mendatang akan memiliki orientasi yang jelas untuk memahami jejak rekam sejarah mereka sendiri.

Jero Gede menegaskan, cihna yang akan dibangun berupa palinggih padmasana dan bebaturan. “Karena sifatnya sebagai cihna, jadi kami tidak membangun kembali palinggih lain, misalnya dalam bentuk gedong atau meru. Ini hanya penanda bahwa leluhur Batur pernah hidup dan membangun peradaban agung di masa lalu, dan seratus tahun lalu akhirnya kaambil (dilihat, red) lahar,” ucap Jero Gede.

Ketua Panitia Seratus Tahun Rarud Batur, Guru Nengah Santika, menambahkan bahwa tempat tersebut merupakan saksi bisu erupsi besar 1926 yang memaksa masyarakat Batur mengungsi dan membangun kembali kehidupan di tempat yang lebih tinggi.

Puncak peringatan peristiwa sejarah ini akan dilaksanakan pada 3 Agustus 2026 sebagai bentuk penghormatan mendalam kepada perjalanan para leluhur. Kegiatan Seratus Tahun Rarud Batur akan diperingati pada bulan Agustus 2026, tepatnya pada 2-8 Agustus 2026.

Pihaknya telah mengkonsep sejumlah mata kegiatan yang bertujuan sebagai edukasi, pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, serta pemajuan kebudayaan Batur.

“Kami sangat mengharapkan dukungan dan partisipasi dari seluruh masyarakat serta pemerintah daerah maupun pusat agar seluruh rangkaian kegiatan ini berjalan lancar. Mari kita jadikan momen ini sebagai pengingat akan perjuangan para leluhur kita 100 tahun yang lalu,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Seksi Balai KSDA Wilayah II Bali, Danang Wijayanto, mengatakan bahwa pihaknya sangat mendukung upaya Desa Adat Batur dalam kegiatan pembangunan cihna tersebut.

“Kami dari BKSDA Bali sangat berbahagia sekali bisa menjadi bagian dari memperingati leluhur dari masyarakat dan kami juga berbahagia sekali bahwa kita bersama-sama saling menghormati dan menjaga kesucian tempat ini,” sebutnya.

Danang Wijayanto kemudian beharap ini dapat menginspirasi masyarakat Batur dan masyarakat Bali sehingga kawasan-kawasan suci tetap terjaga dan tetap lestari. [rls]

Shares: