GIANYAR, balitourismnow.com – Bagi yang ikut acara ‘Talk: Rumi’s Spiritual Journey’ dalam ajang BaliSpirit Festival 2026 Sabtu 18 April 2026 pasti mendapatkan pengalaman baru. Ceramah yang diberikan oleh Muhammad Nur Jabir bertempat di World Peace Garden itu mampu membuka ruang pikiran setiap peserta.
Talk: Rumi’s Spiritual Journey menjadi salah satu program paling dinantikan di BaliSpirit Festival 2026 itu. Pengunjung yang didominasi wisatawan mancanegara itu rela menunggu untuk dapat mengikuti ceramah dari Direktur Rumi Institute yang juga Pakar Bahasa Persia itu.
“Saya mengucapkan terimakasih sudah dikasi terhubung dengan BaliSpirit. Kenapa kami mendorong Rumi, karena kemanusiaan dan beberapa tahun fokus kepada Rumi, sehingga pada 2003, Unesco mencetuskan pemikiran Rumi terhadap kemanusiaan,” kata Ustad Nur Jabir senang.
Pada kesempatan itu, Ustad Nur Jabir mengingatkan, ajaran tasawuf Rumi menawarkan cara pandang yang melampaui perbedaan lahiriah: kebenaran bagaikan cermin yang jatuh ke bumi dan pecah—setiap orang memegang serpihan yang sama, dari sumber yang satu.
“Saya bukan dari langit, bumi, tanah, air dan kita semua akan berjumpa di ruang kosong. Saya menemukan itu di sini (BaliSpirit Festival) datang berbagai bahasa, budaya, kulit menyampaikan spirit kemanusiaan kita dan kata terbuka melihat kemanusiaan itu sendiri,” ucapnya.
Menurut Ustad Nur Jabir, sebagai orang awam mulailah dari yang sederhana. Biasanya yang sederhana itu tidak peduli. Misalnya, setiap hari makan pisang goreng, namun pada suatu pagi pisang goreng tidak ada, lalu membuat orang itu marah-marah.
Hanya karena tidak ada pisang goreng menjadi marah-marah. Karenanya para Sufi mengajarkan mulailah dengan sederhana. Jangan melihat bajunya (luarnya), maka secara dalam perlahan-lahan mencoba lebih masuk lagi ke dalam.
Karena di dalam batin itu ada samudera hatinya yang akan terbuka dan menerima semua hal perbedaan dan semua warna. Itu karena ia sudah menjadi lautan, dan ketika manusia menyatu pada samudera batinnya, maka dia akan memeluk semua perbedaan itu.
“Di BaliSpirit Festival ini, Tuhan mempertemukan sesama pejalan. Saya menganggap di festival ini semua masuk ke batin dan menyuarakan suara batinnya, sehingga Tuhan mempertemukan sesama pejalan. Saya menemukan itu di festival, perayaan koneksi global ini,” imbuhnya.
Ustad Nur Jabir mengaku banyak melihat perbedaan dari pakaian luarnya. Tetapi kalau dari dalamnya, semua sama. “Saya berharap dengan belajar ajaran Rumi ini, maka kita bertemu di batin,” harap Ustad Nur Jabir.
Ustad Nur Jabir mengatakan, jika ingin mendapatkan kebahagiaan sejati, maka lampaui dulu bahagia dan derita itu. Artinya, bahagia dan derita itu terkait dengan materi dan duniawi. Nah, ketika bisa melampai keduanya, berarti sudah bisa masuk ke level yang lebih tinggi.
“Pada saat itu, baik derita atau bahagia tidak lagi dipengaruhi dunia materi, tetapi sudah dipengaruhi oleh Tuhan. Orang yang bahagia, karena Tuhan sudah masuk mempengaruhi,” ungkapnya.
Ustad Nur Jabir juga mengatakan, obat derita itu ada di dalam derita. Artinya, kalau orang tidak pernah memeluk derita, maka ia tidak akan faham seperti apa deritanya itu. Di jaman ini, kebanyakan manusia berlari dari derita.
Padahal, ketika orang bisa memeluk apa yang dialami dengan deritanya itu, maka disitulah dapat menemukan deritanya. Bahkan, berlanjut akan menemukan jalan keluar dan akhirnya dia menjadi bahagia.
Ketika ditanya belakangan ini ada banyak pertikaian dan perpecahan, Ustad Nur Jabir mengatajanm itu karena mereka hanya melihat perbedaan atau dari dimensi luarnya saja. Kalau saja mau melihat ke dalam, maka semuanya sama, dan tidak ada perbedaan.
Maka itu, Rumi mengajarkan untuk bertemu di batin. Ketika ketemu di batin di situ sebenarnya dapay tidak melihat bentuk hakekat perbedaan. “Bagi Rumi kebenaran itu, seperti cermin yang jatuh tercerai berai ke bumi, lalu setiap orang menemukan pecahan (kebenaran) itu. [buda]


