Art & Culture

Dramatari Arja Klasik Banjar Bukit Buwung Hidup Kembali

DENPASAR, balitourismnow.com – Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Banjar Bukit Buwung¸ Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur dihidupkan kembali. Penari dan penabuh yang mendukungnya merupakan generasi muda yang memiliki semangat tinggi.

Ketika Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma ini hidup, langsung didapuk menjadi duta Kota Denpasar untuk tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026. Dipercaya sebagai duta seni Kota Denpasar, membuat sekaa seni arja ini lebih bersemangat lagi.

Dulu, sekitar tahun 1965-an kesenian arja di Bajar Bukit Buwung itu mengalami masa kejayaan yang ditandai dengan banyaknya pesanan pentas. Namun, setelah itu sekaa seni sebunan ini jarang menerima pesanan pentas, yang pada akhirnya vakum.

“Kebangkitan kesenian arja ini bermula dari keinginan warga untuk “nangiang” Ida Bhatara di Pura Banjar Bukit Buwung pada 2018,” kata Koordinator Arja Giri Nata Kusuma, I Made Sumantra sebelum melakukan pembinaan dari tim kesenian Kota Denpasar, Jumat, 15 Mei 2026.

Keinginan warga untuk membangkitkan kesenian arja itu, karena masih mewarisi gelungan condong, mantri manis, mantra buduh, dan limbur. Keempat gelungan dan katung (wadah atau tempat khusus menyimpan gelungan/mahkota) temnpatnya acak, namun disakralkan.

Bertepatan dengan piodalan di pura Banjar Bukit Buwung yang jatuh pada Tumpek Bubuh 2018, warga Banjar Bukit Buwung sepakat untuk “ngodak” (memperbaiki) semua gelungan itu. Perbaikan kostum, namun tidak diikuti dengan penyediaan penarinya, tetap saja vakum.

Pada piodalan di tahun 2025, keinginan menghidupkan kesenian yang mengandalkan tembang itu kembali muncul. Keinginan itu, dibarengi dengan menyiapkan pelatih. “Kelian Banjar meminta segera mencari pelatih agar arja benar-benar bisa diwujudkan kembali,” ucapnya.

Sebagai pendukung arja kini, semuanya baru dengan merekrut generasi muda yang memiliki kemauan untuk melestarikan kesenian klasik yang telah diwarisi para leluhurnya tempo dulu. Pengemasannya juga sangat relevan yang mengedepan inovasi, sehingga tampil lebih segar.

Sumantra yang ditugasi mencari pelatih, kemudian mendapat rekomendasi dari seniman arja senior, Jero Ratna. Arja tersebut kembali dipelajari hingga terbentuk sekaa dramatari arja baru bernama Giri Nata Kusuma.

Upaya pelestarian tersebut pun mendapat sambutan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar, dengan mempercayai sebagai duta Kota Denpasar untuk tampil pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026. “Ini kesempatan yang membanggakan, dan ini juga menjadi tantangan,” ucapnya.

Sebab, dalam proses pembentukan sekaa, warga lokal menjadi prioritas sebagai penari dan pendukung pementasan untuk keberlanjutan tradisi tetap terjaga. Tak hanya itu, pemilihan pemain juga banyak melibatkan keturunan para pemain arja generasi sebelumnya.

Tradisi regenerasi itu dinilai penting agar karakter dan roh kesenian tetap terpelihara. “Dulu kakeknya menjadi penasar, sekarang diteruskan anak atau cucunya. Jadi memang ada kesinambungan generasi,” terang Sumantra senang.

Satu hal menarik dari pemilihan penari arja itu, yakni penari condong yang dipilih setelah mengalami trance, kerauhan. Pada saat piodalan di pura di banjar itu, sering sekali ada warga yang kerauhan.

Setiap piodalam di pura tersebut, memang selalu saja ada warga yang kerauhan dengan menari arja, meski tidak pernah belajar sebelumnya. Ada yang kerauhan dengan menari tokoh limbur, condong, bahkan matembang arja secara alami.

“Penari condong yang masih berusia muda itu, terpilih setelah sebelumnya mengalami kerauhan dan menarikan karakter condong saat piodalan,” aku pria yang juga sebagai pelatih iringan dramatari arja itu.

Diawal dramatari arja ini dibangkitkan, hanya didukung 7 penari saja. Namun, setelah didapuk menjadi duta seni Kota Denpasar, tokoh-tokoh yang ada dalam pertunjukan dramatari arja ditampilkan semua, sehingga menjadi 11 penari.

Penambahan tokoh ini juga dikuatkan dengan adanya isyarat pada piodalan di tahun 2025. Pada saat itu, warga mementaskan arja dengan 7 penari. Ketika tokoh mantra buduh ngelembar (menari), tiba-tiba salah satu warga bangkit dan menari tokoh mantra manis tanpa sadarkan diri.

“Dari tanda-tanda itu, jumlah penari arja kemudian dilengkapi sesuai dengan kebuthan tampil di ajang PKB,” imbuhnya.

Dari total pemain yang terlibat, hanya dua orang yang belum menikah, sementara lainnya merupakan warga Banjar Bukit Buwung yang sudah berkeluarga. Setelah dipercaya tampil di PKB, para pemain kemudian dilatih oleh sejumlah seniman senior.

Pelatih itu, diantaranya Made Sudira dan Jero Ratna yang dibantu pelatih dari Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, yakni Made Sudarsana melatih Wayan Rumasih, serta Rimbit. “Ini menjadi tugas berat, karena tidak semuanya penari memiliki dasar tari maupun tembang,” ujar Sumantra.

Latihan perdana dimulai pada 18 Januari 2026 setelah dilakukan prosesi nuasen. Demi mengejar persiapan tampil di PKB, latihan dilakukan secara intensif. Atas usulan Jero Ratna, dramatari arja yang akan dipentaskan mengangkat lakon “Katung Pingit”.

Judul itu, selaras dengan tema PKB 2026, “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha” memiliki makna penyucian dan pemuliaan jiwa yang paripurna melalui ruang seni, budaya, dan tradisi.

Judul tersebut juga terinspirasi dari kondisi arja lama di Banjar Bukit Buwung yang hanya menyisakan katung dan gelungannya saja. “Katung itu dulu tetap disakralkan walaupun lama tidak digunakan. Dari situlah ide cerita ini muncul,” jelasnya.

Pementasan Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma tersebut akan diiringi barungan gamelan geguntangan, seperti tradisi masa lalu. Namun satu instrumen lama bernama “ber”, alat musik berbentuk lingkaran menyerupai rebana, tidak lagi digunakan karena sudah rusak dimakan rayap.

Sementara itu, seniman senior Ni Ketut Cangkir yang dahulu pernah menjadi pemeran Condong mengaku bangga melihat semangat generasi muda menghidupkan kembali kesenian arja di banjarnya.

“Saya sangat senang dengan semangat anak-anak muda sekarang yang mau belajar dan membentuk kembali sekaa dramatari arja di banjar ini. Melihat mereka latihan, serasa membuka memori lama yang masih ada,” ujarnya.

Sedangkan, Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Wayan Narta, mengatakan keberadaan seni Arja di kawasan Kesiman memang memiliki jejak sejarah yang kuat. Bahkan sejumlah atribut dan perlengkapan kesenian lama masih ada.

Seperti gelungan Arja masih tersimpan dan kini kembali diangkat sebagai bagian dari upaya revitalisasi seni tradisi. “Secara historis memang ada kesenian Arja di desa tersebut. Itu yang sekarang kami angkat kembali,” paparnya.

Arja merupakan salah satu seni dramatari klasik Bali yang memadukan unsur tembang, dialog, tari, dan lawakan. Di Kota Denpasar, kesenian ini pernah berkembang kuat di sejumlah wilayah seperti Kesiman, Pedungan, hingga Sanur.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, keberadaannya mulai jarang dipentaskan sehingga kini kembali digeliatkan oleh generasi pelaku seni. Selain Arja, Denpasar masih memiliki sejumlah kesenian klasik yang tetap dijaga keberlangsungannya.

Kesenian yang tetap terjaga, seperti Joged Gandrung, Gambuh, Wayang Wong, Topeng Pajegan, hingga Gender Wayang. Sejumlah kesenian tersebut terus dikembangkan melalui sanggar-sanggar seni berbasis desa adat serta pembinaan generasi muda. []

Shares: