DENPASAR, balitourismnow.com – Bali Villa Connect (BVC) ke-2 telah dibuka oleh Gubernur Bali yang diwakili Tjok Bagus Pemayun, mantan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali yang kini sebagai Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Permukiman dan Sarana Prasarana Wilayah, Selasa 26 Mei 2026.
Acara Bali Villa Connect 2026 yang diselenggarakan oleh Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA) menjadi expo dan forum diskusi terbesar bagi pemilik vila, pengelola properti, investor, serta pelaku industri pariwisata di Indonesia.
Bali Villa Connect 2026 ini diikuti lebih dari 900 peserta, sebanyak 40 exhibitor dari berbagai sektor industri pariwisata dan hospitality, 30 narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi nasional maupun internasional, termasuk dari Australia, Dubai, dan Bangkok.
Selain itu, partisipasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) local dilibatkan sebagai bagian penting dalam penguatan ekonomi masyarakat Bali. Bersama seluruh stakeholder yang hadir, Bali Villa Connect 2026 ini sedang menciptakan sejarah baru bagi industri villa di Bali.
“Saya sangat mengapresiasi terobosan dari BVRMA dalam menggelar expo dan forum diskusi sebagai bagian inovasi untuk membuat pariwisata Bali sebagai destinasi lebih berkualitas dan bermartabat,” kata Tjok Bagus Pemayun.
Pemerintah Provinsi Bali telah membentuk tim untuk percepatan invetariosasi serta langkah-langkah yang akan dilakukan. Dalam periode kedua Gubernur Bali ini melakukan penataan pariwisata dari sisi alih fungsi lahan, termasuk dari sisi penggunaan lahan-lahan yang ada.

Wakil Menteri (Wamen) Pariwisata RI, Ni Luh Puspa dalam tayangan video meyampaikan Kementrian Pariwisata menyambut baik Bali Villa Connect 2026 sebagai upaya bersama dalam mendorong pariwisata Indonesia lebih berkuliatas. inklusip dan berdaya saing.
Wamen Ni Luh Puspa meyakini acara Bali Villa Connect memontum strategis untuk mendorong industry villa Indonesia agar semakin tertib, profesional, berdaya saing dan mampu memenuhi standar global.
Industry villa memiliki peran besar dalam mendukung pertumbuhan pariwisata Indonesia khususnya di Bali sebagai salah satu destinasi keunggulan dunia.
Keberadaan akomodasi berkualitas tidak hanya meningkatkan kenyamanan wisatawan, tetapi juga mendorong lama tinggal meningkatkan daya belanja dan meningkatkan lapangan lerja serta memberi damapk ekonomi bagi masyarakat dan pengusaha local.
Pertumbuhan industry villa perlu diiringi dengan tata kelola yang baik, kepatuhan terhadap regulasi, peningkatan kualitas layanan, pemanfaatan teknologi serta komitmen terhadap prinsip pariwisata berkelanjutan.
“Saya berharap melalui acara ini, para pelaku dapat saling bertuka pengetahuan memperkuat jejaring disekeliling dan memahami trend pasar, serta menyusun langkah bersama untuk membangun industry vila lebih tertib, inovatif dan berkualitas,” harapnya.
Ketua BVRMA, Kadek Adnyana dalam laporannya mengatakan, Bali membutuhkan sinergi antara pemerintah, asosiasi, investor, akademisi, masyarakat lokal, dan seluruh pelaku industri untuk menciptakan tata kelola pariwisata yang lebih sehat, profesional, dan berkelanjutan.
Maka itu, momen ini untuk membangun fondasi industri villa Bali yang lebih tertata, profesional dan memiliki standar internasional. “Kami percaya bahwa masa depan pariwisata Bali tidak bisa dibangun secara sendiri-sendiri,” kata Adnyana dengan penuh semangat.
Selama dua hari, expo dan forum diskusi ini menjadi ruang strategis membahas tren pasar terkini, mengembangkan strategi bisnis yang adaptif, mendorong inovasi layanan serta menguatkan praktik pengelolaan vila yang berkelanjutan
“Melalui Bali Villa Connect 2026, kami menghadirkan ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, memperluas koneksi bisnis, sekaligus menyatukan visi dalam membangun pariwisata Bali yang lebih berkualitas dan berdaya saing global,” harapnya.
Pada kesempatan ini, Bali Villa Connect juga menghadirkan institusi pendidikan sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem industri villa yang lebih kuat dan berkelanjutan. Bahkan, akan menjalin kerja sama strategis melalui penandatanganan MoU bersama institusi pendidikan.
Termasuk Universitas Udayana, untuk penyediaan Sumber Daya Manusia (SDM) lebih relevan dengan kebutuhan industri villa operator, villa rental, dan villa management. Kolaborasi dunia pendidikan dan industri untuk menciptakan talenta pariwisata yang adaptif dan siap menghadapi kebutuhan global.
“Selama ini sebagian besar kurikulum pariwisata masih berfokus pada sektor perhotelan, sementara industri villa berkembang sangat pesat dan membutuhkan kompetensi SDM yang lebih spesifik,” sebutnya.
Bali Villa Connect juga mendorong lahirnya standarisasi industri pervillaan di Bali. Sebab, belum terdapat klasifikasi ataupun kategori villa berbintang yang dapat menjadi acuan dalam menentukan standar kualitas, positioning market, hingga kepastian investasi bagi investor lokal maupun global.
“Kami percaya, inilah momentum untuk mulai membangun fondasi industri villa Bali yang lebih tertata, profesional, dan memiliki standar internasional. Bersama seluruh stakeholder yang hadir, kita sedang menciptakan sejarah baru bagi industri villa di Bali,” ucapnya.
Kadek Adnyana menegaskan, BVRMA memiliki perhatian yang sangat serius terhadap isu kepatuhan dan tata kelola industri akomodasi pariwisata di Bali. Pihaknya melihat pertumbuhan investasi di sektor villa dan hospitality berkembang sangat cepat.
Namun, di sisi lain juga menghadapi berbagai tantangan serius — mulai dari villa ilegal, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, pengelolaan limbah dan sampah, kemacetan, perang harga yang tidak sehat, hingga persoalan keamanan dan kualitas destinasi Bali itu sendiri.
“Kami melihat masih ada praktik usaha yang belum memberikan kontribusi optimal terhadap pembangunan daerah, pelestarian budaya Bali, maupun kesejahteraan masyarakat lokal. Kita harus berani membangun sistem industri lebih tertib, profesional, transparan, dan berkeadilan,” ujarnya. [buda]


