News

Workshop Baleganjur Mengwi: Inovasi Boleh, Identitas Musikal Harus Tetap Dijaga

MANGUPURA, balitourismnow.com – Baleganjur telah berkembang jauh dari fungsi awalnya sebagai musik pengiring prosesi keagamaan dan adat. Kini, Baleganjur hadir sebagai seni pertunjukan yang memadukan musikalitas dengan unsur visual seperti gerak penabuh, koreografi, tata kostum, dan teatrikal. Namun, di tengah perkembangan tersebut, muncul pertanyaan penting: sejauh mana inovasi dapat dilakukan tanpa menghilangkan identitas musikal Baleganjur?

Pertanyaan itu menjadi fokus Workshop Baleganjur bertajuk “Gejer Mengwi: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi” yang digelar Listibya Kecamatan Mengwi di Kantor Camat Mengwi, Rabu 29 Juli 2026. Kegiatan ini menghadirkan dua tokoh karawitan Bali, I Ketut Gede Asnawa, S.Skar., M.A. dan I Wayan Widia, S.Skar., dengan I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. sebagai moderator. Workshop diikuti para penggarap Baleganjur dari desa dan kelurahan se-Kecamatan Mengwi.

Asnawa menjelaskan, Baleganjur merupakan salah satu bentuk karawitan Bali yang mampu beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Perubahan besar mulai terlihat ketika Baleganjur tidak lagi hanya berfungsi sebagai musik prosesi, tetapi berkembang menjadi seni pertunjukan dan ajang kreativitas.

Menurutnya, perkembangan itu semakin pesat sejak hadirnya lomba Baleganjur di Kabupaten Badung pada 1986 dan kemudian menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali sejak 2013. Kompetisi mendorong lahirnya berbagai eksperimen musikal, memperkaya repertoar, teknik permainan, hingga konsep penyajian.

Meski demikian, Asnawa mengingatkan agar perkembangan unsur visual tidak menggeser esensi Baleganjur sebagai seni musik. Visual memang penting untuk memperkuat pertunjukan, tetapi tidak boleh mengalahkan kualitas bunyi yang menjadi identitas utamanya.

“Aspek visual seharusnya menjadi penguat konsep musikal, bukan menggantikan kekuatan bunyi Baleganjur,” tegas Asnawa.

Pandangan senada disampaikan I Wayan Widia melalui materi tentang kreativitas mencipta gending Baleganjur. Ia menekankan bahwa inovasi harus dibangun di atas pemahaman terhadap tradisi. Seorang komposer, menurutnya, harus memahami asal-usul dan karakter dasar Baleganjur sebelum mengembangkan karya baru.

Widia menjelaskan, struktur komposisi Baleganjur tetap berlandaskan konsep Tri Angga, yakni kawitan sebagai pembuka, pengawak sebagai bagian pengembangan, dan penutup sebagai penyelesaian komposisi. Sebuah karya tidak hanya dituntut menarik secara teknis, tetapi juga memiliki arah, keseimbangan, dinamika, dan alur emosional yang utuh.

Ia juga mengingatkan bahwa berkembangnya unsur gerak, kostum, dan teatrikal harus tetap berpijak pada konsep musikal yang jelas. Gerak bukan sekadar atraksi, melainkan penajaman gagasan yang harus memenuhi prinsip etika, logika, dan estetika.

Karena itu, proses penciptaan Baleganjur idealnya diawali dengan membangun kekuatan audio sebagai fondasi utama. Setelah musikalitas terbentuk dengan kuat, unsur visual hadir untuk memperkuat pesan artistik yang ingin disampaikan.

Melalui workshop ini, para peserta diajak memahami bahwa inovasi merupakan bagian dari perkembangan seni, namun tidak boleh menghilangkan jati diri Baleganjur. Visual dapat terus berkembang mengikuti zaman, tetapi bunyi tetap menjadi roh yang menjaga eksistensi Baleganjur sebagai salah satu warisan penting karawitan Bali. [buda]

Shares: