News

Kain Bersertifikat di Atas Catwalk: Labdanation Fashion Week Season III Bidik Rekor Dunia Guinness

DENPASAR, balitourismnow.com – Kain-kain yang melintas di atas catwalk Sira Village, Denpasar, Rabu malam, 28 Oktober 2026, punya satu kesamaan: semuanya bersertifikat internasional. Dari panggung itulah PT Labda Anugerah Tekstil menggelar Labdanation Fashion Week Season III, peragaan busana tekstil berkelanjutan yang diarahkan untuk memecahkan Rekor Dunia Guinness.

Acara bertema “Threads of Legacy” ini menampilkan karya kolaboratif desainer, mitra, dan pemangku kepentingan yang menggunakan kain bersertifikasi internasional.

Menurut siaran pers perusahaan, peragaan ini dirancang untuk memecahkan rekor dunia sebagai peragaan busana tekstil berkelanjutan bersertifikasi pertama dan terbesar. Acara berlangsung pukul 17.00 hingga 22.00 WITA, diawali talkshow tentang industri tekstil nasional.

 

Rekor dari Kain Bersertifikat

Direktur Operasional PT Labda Anugerah Tekstil, Wijaya Ng, menyebut seluruh busana yang tampil sudah bersertifikat standar internasional. Bahan yang digunakan adalah bahan yang sudah bersertifikasi ramah lingkungan. Bukan hanya ramah lingkungan, tapi juga sistemnya, prosesnya berkelanjutan.

Ia merinci berkelanjutan mencakup aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan, termasuk sumber daya manusia dan dampak terhadap lingkungan sekitar. Bahan busana berasal dari serat alam, yakni katun dan rayon.

Sebanyak 67 busana akan ditampilkan, dan desainnya sudah memiliki hak cipta atas nama masing-masing desainer. Lima desainer terlibat: Morrato Bali, Kimmyra, IDB Bali, Unice, dan Novel Mice, semuanya dari Indonesia.

Wijaya menyebut UMKM menjadi prioritas. Ia juga menyebut IDB Bali sebagai yang paling penting karena ingin mahasiswa, setelah lulus, menjadi pelaku bisnis berstandar internasional.

 

Bali sebagai Etalase

Pemilihan Bali sebagai tempat rekor juga disengaja. “Kenapa di Bali? Bali itu etalase Indonesia dan dunia. Hari ini kita catat rekor itu di Bali, etalase internasional,” kata Wijaya Ng.

 

Labdanation Fashion Week Season III diawali dengan talk show /Foto: ingga

Ia lalu melempar pertanyaan kepada hadirin. “Fashion show internasional selama ini ada dimana, Bapak Ibu? Paris, kali ya. Bisa nggak kita pindah ke Indonesia? Kalau mau, pasti bisa. Bapak-bapak harus terlibat juga. Kita sama-sama wujudkan, karena ini kolaborasi. Semua stakeholder terlibat,” ujarnya.

Wijaya juga berterima kasih kepada pihak Sira Village yang menyediakan tempat. Menurutnya, lokasi itu sudah bersertifikat berkelanjutan, dan profilnya turut dikirim ke Guinness World Records sebagai salah satu penentu izin lokasi. Ia menyebut lokasi tersebut sudah melewati verifikasi.

 

Talkshow: Integritas dan Etika Menuju Pasar Global

Talkshow bertajuk “Perkembangan Industri Tekstil Nasional Menuju Pasar Global yang Berintegritas dan Beretika dalam Menciptakan Pelaku Bisnis yang Berstandar Internasional” menjadi pembuka rangkaian acara.

Pembicaranya antara lain Wijaya Ng, Hagung Eko Prayoko (Kepala Balai Besar Tekstil), Baari La Inggi (Sekretaris Jenderal API), Pipit Fitriyani Hayati (General Manager TESTEX), dan Benjamin Bambang Juwono (Managing Director PT Arfia Megah).

Dalam sesi itu, Wijaya Ng menegaskan industri tekstil yang berintegritas dan beretika adalah kewajiban untuk memasuki pasar global. “Itu tidak bisa ditawar ataupun dipikir-pikir lagi. Karena pasar sekarang butuh, masyarakat juga butuh satu kejujuran daripada apa yang kita hasilkan,” ujarnya.

Ia lalu menjabarkan maknanya. “Integritas itu regulasi yang ada kita ikuti. Kemudian apapun yang kita hasilkan, kita harus sampaikan secara transparansi. Bahkan dari segi produksi, dari segi proses, itu harus terbuka. Itulah yang dibutuhkan pasar global,” ujarnya.

Soal etika, ia mengaku menganggap kompetitor sebagai teman. “Kami menganggap etika bisnis itu, kompetitor itu kami anggap sebagai teman. Jadi saat sekarang ini, bukan masa yang harus tampil sendiri,” ujarnya. Ia menambahkan, “Tidak semua industri akan menguasai satu bidang secara keseluruhan.”

Dari sisi lembaga pengujian, Pipit Fitriyani Hayati menilai Labda memiliki komitmen tinggi dalam memastikan bahan baku, proses printing, dan bahan kimia yang dipakai sudah bersertifikat.

Menurutnya, sertifikasi yang diakui secara global membuat persyaratan terpenuhi dan komitmen etika terverifikasi. Ia menyebut pelaku usaha yang ingin masuk pasar global akan paling ditanya soal nilai tambah produknya.

“Sertifikasi ini sebenarnya bukan hanya sekadar branding, bukan hanya sekedar produk saya baik, bagus, high quality, tetapi lebih ke komitmen,” kata Pipit.

Ia mengingatkan satu sertifikasi yang tercapai bisa jadi baru awal proses, dan menjaga komitmen dalam produksi sehari-hari “itu yang menjadi tantangan.” Ia menutup, “Sangat penting sekali komitmen yang menjadikan quality itu sebagai persyaratan utama.”

 

Dari Printing Ramah Lingkungan ke Panggung Rekor

PT Labda Anugerah Tekstil didirikan pada tahun 2020 di Denpasar. Menurut perusahaan, Labda adalah perusahaan digital printing tekstil pertama di Indonesia yang bersertifikasi OEKO-TEX STeP. Perusahaan juga mengantongi sertifikasi ISO 9001, ISO 14001, ISO 45001, ISO 27001, OEKO-TEX Standard 100, dan Sertifikat Industri Hijau, serta empat rekor MURI.

Berdasarkan brosur perusahaan, kain yang dicetak harus berlabel atau bersertifikat ramah lingkungan dari pabriknya. Tinta yang dipakai bersertifikat GOTS dan OEKO-TEX ECO PASSPORT, pelapisan kain memakai bahan bersertifikat ECO PASSPORT, dan limbah diolah secara biologis agar tidak merusak lingkungan.

Labda tidak pernah berhenti berinovasi. Labdanation Fashion Week Season III dan upaya pemecahan rekor dunia Guinness ini membuktikan bahwa industri Indonesia mampu bangkit dan bersaing di pasar global. Ini bukan hanya tentang Labda, tetapi tentang membawa nama Indonesia ke panggung dunia melalui praktik bisnis yang bertanggung jawab dan berkelanjutan

Acara ini digelar bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Wijaya Ng menyebut pemilihan tanggal itu bukan kebetulan, melainkan simbol bahwa semangat persatuan, kolaborasi, dan kebangkitan generasi muda yang diikrarkan pada 1928 harus terus diwujudkan dalam karya nyata.

“Kepada seluruh pemuda-pemudi Indonesia, inilah momen kita untuk bangkit bersama. Pasar global bukanlah tembok yang harus ditakuti, melainkan pintu terbuka bagi mereka yang berani berinovasi, berkolaborasi, dan berintegritas,” tegasnya. [ingga]

Shares: