TABANAN, balitourismnow.com – Kekayaan kuliner tradisional Tabanan turut menjadi daya tarik dalam Tanah Lot Art and Food Festival VII tahun 2026. Salah satunya Kuliner Tradisional Ulam Carik, sajian yang mengangkat bahan-bahan dari lingkungan persawahan dan memperkenalkan kembali cita rasa lokal kepada masyarakat maupun wisatawan.
Ulam Carik juga diperkenalkan pada hari terakhir festival, Minggu 30 Agustus 2026, setelah Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga bersama para undangan menutup rangkaian kegiatan. Beragam hidangan disajikan di klinik kuliner dan dapat langsung dicicipi oleh para tamu.
Sejumlah hidangan bahkan cukup asing bagi sebagian undangan. Petugas kemudian menjelaskan bahan dan cara pengolahannya, sementara beberapa tamu memilih langsung mencicipi karena penasaran.
Ragam kuliner yang disajikan antara lain Lindung Metunu Sambal Bejek, berbahan belut sawah yang dibumbui base genep dan dimasak secara tradisional menggunakan balutan daun pisang. Hidangan ini disajikan bersama sambal bejek yang pedas dan segar.
Ada pula Kakul Suna Cakuh, olahan keong sawah dengan bawang putih, kencur, dan rempah khas Bali. Sementara Pesan (Pepes) Testes menggunakan anak ikan air tawar yang dibumbui base genep, dibungkus daun pisang, kemudian dimasak hingga menghasilkan aroma khas.
Menu lainnya adalah Kuah Kakul, berupa kakul segar yang dimasak dengan bumbu rempah Bali. Untuk sayuran, tersedia Jukut Gonda, kuliner tradisional Tabanan yang menggunakan pucuk tanaman gonda yang tumbuh di area persawahan.
Ulam Carik juga menghadirkan minuman tradisional seperti Rujak Bir, perpaduan kelapa muda dan kuah rujak berbumbu khas Bali. Meski bernama “bir”, minuman tersebut tidak mengandung alkohol.
Ada pula Rujak Tibah (Mengkudu) yang dibuat dari sari buah mengkudu dengan campuran gula, garam, cabai, dan jeruk. Sementara Loloh Cemcem menawarkan cita rasa manis, asam, dan gurih dengan tambahan bulir kelapa muda.
Untuk kudapan, Jaje Uli Tape menjadi salah satu pilihan. Jajanan berbahan beras ketan, kelapa, dan tape ketan tersebut menghadirkan rasa gurih, manis, dan sedikit asam.
Kehadiran Ulam Carik menunjukkan bahwa kekayaan kuliner Tabanan tidak terlepas dari kehidupan masyarakat agraris. Bahan pangan yang tumbuh di sekitar persawahan diolah menjadi makanan tradisional yang memiliki cita rasa sekaligus nilai budaya.
Tiga Hari Promosi Seni dan Pariwisata Tabanan
Tanah Lot Art and Food Festival VII berlangsung selama tiga hari, 28–30 Agustus 2026. Mengusung tema “Samudra Sakti Raksanam Jagat Samyaya”, festival ini menghadirkan berbagai pertunjukan seni, budaya, kuliner, dan hiburan.
Selain menjadi ruang hiburan, festival tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi Tabanan kepada masyarakat dan wisatawan. Kegiatan ini juga memberikan ruang bagi para pelaku seni dan budaya untuk menampilkan kreativitasnya.
Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga mengapresiasi konsistensi pelaksanaan festival yang dinilai mampu menjadi ruang untuk mengangkat dan mempromosikan seni, budaya, kuliner, serta potensi pariwisata Tabanan. “Tanah Lot memiliki posisi istimewa sebagai destinasi wisata yang telah dikenal hingga mancanegara,” katanya.
Menurutnya, panorama alam Tanah Lot merupakan anugerah sekaligus warisan leluhur yang harus dijaga keberlangsungannya. Ia juga mengapresiasi berbagai pertunjukan seni, budaya, dan kuliner tradisional yang ditampilkan selama festival.
“Selama tiga hari ini kita telah menyaksikan berbagai pertunjukan seni, budaya dan kuliner tradisional yang luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa daerah kita sangat kaya akan seni, budaya, kuliner tradisional dan berbagai potensi menarik lainnya,” ujar Dirga.
Tema “Samudra Sakti Raksanam Jagat Samyaya” dimaknai sebagai menjaga kekuatan samudra menuju keharmonisan dan keseimbangan alam semesta. Momentum festival diharapkan turut menumbuhkan kesadaran untuk menjaga dan melestarikan laut sebagai warisan bagi generasi mendatang.
“Event ini bukan hanya sekadar ajang hiburan, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat tali persaudaraan, memperkuat identitas budaya kita serta memperkenalkan kekayaan warisan nenek moyang kepada generasi muda dan dunia,” tutur Dirga.
Ia berharap Tanah Lot Art and Food Festival dapat terus dilaksanakan setiap tahun dengan menghadirkan kreativitas dan inovasi baru.
“Saya sangat berharap event ini bisa dilaksanakan secara konsisten setiap tahun. Dibutuhkan kerja keras, kreativitas dan inovasi baru agar kunjungan wisata bisa terus meningkat dan DTW Tanah Lot semakin terkenal,” imbuhnya. [buda]


