Art & Culture

Pamerkan 50 Tahun Lukisan Sri Chinmoy di ARMA: Cara Mendekatkan Diri kepada Masyarakat Local dan Internasional

Kalau dihitung, sudah banyak perupa ataupun seniman yang menggelar pameran di Agung Rai Museum of Art (ARMA) Ubud. Namun, untuk pemeran perayaan 50 tahun lukisan Sri Chinmoy untuk kedamaian dan keharmonisan dunia kali ini, banyak dikunjungi warga asing.

Mereka yang datang dari berbagai negara di dunia, bukan hanya melihat karya lukis yang indah dan sarat pesan saja, tetapi terlibat langsung dalam acara perayaan itu. Lebih dari selusin lukisan akrilik abstrak Sri Chinmoy yang disajikan untuk pertama kalinya di Pualu Dewata ini.

Acara ini menjadi lebih meriah, ketika paduan suara dari anak-anak Bina Vokalia Denpasar membawa beberapa lagu Sri Chinmoy untuk kedamaian dan seni. Penampilan anak-anak ini menjadi sorotan para pengunjung karena lagu-lagunya yang indah dan syarat makan.

Acara itu juga menampilkan doa perdamaian dengan mengusung obor kedamaian yang dibawa oleh Sri Chinmoy Oneness-Home Peace Run dan diikuti lebih dari 160 negara di seluruh dunia. Peserta berjalan berkeliling sebanyak tiga kali selanjutnya berdoa dengan sarana banten Bali.

BACA JUGA:  Tradisi ‘Metimpugan Tipat Bantal’ di Desa Adat Padang Luwih Menjadi Atraksi Wisata

Pada acara tersebut juga diisi dengan penyerahan penghargaan Sri Chinmoy Culture-Light Award dari Yayasaan Seni Jharna-Kala kepada Prof. Dr, I Wayan Dibia, Professor Emeritus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar sebagai penari, koreografer dan tulisannya tentang Taksu.

General Manager ARMA Museum & Resort, Made Suhartana mengatakan, kegiatan perayaan 50 tahun lukisan Sri Chinmoy untuk kedamaian dan keharmonisan ini salah satu kegiatan rutin yang digelar setiap tahunnya. Kegiatan seperti ini untuk menarik kunjungan wisatawa ke ARMA.

Sebab, Museum ARMA, tak hanya sebagai tempat memajang karya seni, tetapi juga tempat melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk dunia internasional. “Ini salah satu cara mendekatkan diri kepada masyarakat local maupun internasional,” kata Suhartana.

Pameran perayaan 50 tahun lukisan Sri Chinmoy di ARMA Museum/Foto: doc.balitourismnow

Sebagai destinasi, ARMA berperan aktif untuk melakukan berbagai event regular yang salah satunya pameran seni. “Ini bagian kecil dari museum. Aktivitas di sini banyak sekali, sehingga cara ini bisa memperkenalkan museum sebagai tujuan wisata juga tempat edukasi,” lanjutnya.

BACA JUGA:  Pameran ROOTS di ARMA Museum Ubud: Peringati Seratus Tahun Walter Spies di Bali

ARMA Museum & Resort ini mengedepankan seni dan budaya Bali. ARMA melakukan segala macam aktivitas seni dan budaya agar bisa mendongkrak kunjungan ke museum. “Kami memiliki komitmen bahwa warisan budaya dan lingkungan harus tetap terjaga,” ungkapnya.

Di Lobi ARMA suasana begitu ramai. Wisatawan asing dari berbagai negara itu tengah menikmati karya lukis yang dipajang di sisi kanan dan kiri lobi. Karya lukis itu menawarkan warna sederhana, tulus dan memancarkan kedamian.

Direktur Yayasan Seni Jharna-Kala, Ranjana K. Ghose yang juga menjadi salah satu panitia memaparkan, karya lukis Sri Shinmoy dipamerkan di Museum ARMA didatangkan secara khusus, dan dipajang untuk kedamaian dan keharmonisan dunia.

Pameran ini, sekaligus sebagai bentuk perayaan 50 tahun sejak Sri Shinmoy mulai berkarya. Kali ini menampilkan lebih dari selusin lukisan akrilik abstrak yang disajikan untuk pertama kalinya di Bali. Karya seni Sri Chinmoy dikenal sebagai “Jharna-Kala” atau Air Mancur Kesenian.

BACA JUGA:  ‘Denyar Renjana’ Jadi Atraksi Wisata: Pameran Lima Seniman Perempuan Indonesia di Santrian Art Gallery Sanur

Lukisan yang dipamerkan ini dikurasi oleh Ranjana. Karya lukisan yang khas itu merupakan bagian dari ribuan lukisan yang dibuat oleh Sri Chinmoy, yang seorang seniman, penyair, komposer musisi aktif dalam bidang kemanusiaan dan guru spiritual.

“Sri Chinmoy sering menyalurkan inspirasi dan meditasi ke dalam banyak cara kreatif. Sebagai bagian dari usaha-usaha untuk kedamaian, Sri Chinmoy kelahiran India telah mengunjungi Bali sebanyak 4 kali dalam kurun waktu 20 tahun,” kata Ranjana.

Pada kunjungan itu, Sri Chinmoy memperoleh penghargaan atas pengabdiannya dalam berbagai kesempatan. Sri Chinmoy memiliki kecintaan yang mendalam atas spiritualitas budaya Bali. Pada saat itu menerima “Heart of Bali Peace Award” dari Universitas Udayana, Januari 2001.

“Saat itu, Sri Chinmoy menyampaikan, saya tunduk pada hati Bali, bagi saya Bali berarti kesecian, Bali berarti kemurnian, Bali berarti pengabdian diri, Bali berarti kesadaran penuh akan kebenaran universal dan kedamaian universal,” jelas Ranjana.

BACA JUGA:  Prof. Dr. Ni Made Ruastiti: Tari Smara Jantra, Ikon Seni Wisata Berbasis Spiritualitas dan Kearifan Lokal Legian Kuta

Acara lain, festival kedamaian Satu Bumi akan diselenggakan kerjasama Peace Run dan Rotary pada 1 Pebruari di lapangan Niti Mandala Renon mulai pukul 9-12. Aksi kedamaian, lebih dari 300 peserta visi kesenian Sri Chinmoy mengunjungi Bali hingga tanggal 11 Pebruari.

Lalu, untuk kelas meditasi gratis akan dipersembahkan di hotel Amaris Denpasar 11 dan 13 Pebruari mulai pukul 19.00 – 12.00 Wita. “Rombongan yang datang ke Bali berasal dari 40 negara untuk mengapresiasi kebudayaan Bali dan bahu-membahu membangun dan olahraga,” lanjutnya. [BT/lan]

Shares: