MANGUPURA, balitorismnow.com – Masih ingat garapan seni bertajuk “Smara Jantra” yang dipentaskan di Desa Adat Legian dengan tiga lokasi yang berbeda? Karya Kadek Ayu Diah Mutiara Dewi itu mempunyai potensi besar sebagai ikon seni wisata berbasis spiritualitas.
Pasalnya, karya mahasiswa program magister Instiut Seni Indonesia (ISI) Bali itu mementaskan karya tari baru terinspirasi dari Tari Telek, kesenian sacral di Desa Legian. Pentas tari untuk mengikuti Ujian Tesis Program Magister ISI Bali itu mengangkat kearipan local yang unik.
“Tari Smara Jantra yang digarap oleh Tiara itu, punya potensi besar untuk digunakan sebagai ikon seni wisata berbasis spiritualitas dan kearifan lokal di Legian Kuta,” kata Prof. Dr. Ni Made Ruastiti, S.St., M.Si., Guru Besar Bidang Seni Pertunjukan Pariwisata ISI Bali disela-sela pentas Tari Smara Jantra, Senin 28 Juli 2025.
Hal itu, lanjut Prof. Ruastiti, bisa dilakukan dengan strategi promosi yang adaptif, dan dengan kemasan yang lebih komunikatif. Lalu, bersinergi antar-stakeholder, agar karya ini bisa berkelanjutan, sebagai daya tarik budaya otentik di tengah dominasi wisata komersial Kuta.
[irp]
Dengan begitu, Tari Smara Jantra sekaligus menjadi model pewarisan seni sakral ke ranah kontemporer, dan ekonomi tanpa kehilangan identitas lokalnya. Pelestarian warisan leluhur ada, pengembangan juga ada, serta berdampak ekonomi di tengah gemerlapnya pariwisata.
Walau demikian, perlu juga melakukan strategi yang mencakup aspek artistik, manajerial dan komunal. Itu bisa dilakukan bekerja sama dengan desa adat, hotel, dan agen travel, sehingga menjadikan Smara Jantra sebagai bagian dari cultural evening experience bisa terwujud.
“Smara Jantra bisa dijadikan paket pertunjukan yang bisa mencakup tur sejarah Tari Telek, interaksi dengan seniman, dan pementasan tari dengan konteks cerita. Jika itu digarap, akan menambah atraksi wisata yang tentunya menjadi pilihan para turis,” ungkapnya.

Jangan lupa melibatkan komunitas local untuk menjadikan Smara Jantra sebagai bagian dari cultural evening experience, sehingga wisatawan dapat merasakan nilai kebersamaan dan keaslian budaya Bali, khususnya yang ada di desa internasional, Legian ini.
[irp]
Hal penting yang mesti dilakukan pula, yakni mengupayakan branding visual dan digital storytelling. Caranya, dengan membuat dokumentasi visual berkualitas tinggi, seperti video, foto, media sosial untuk promosi di platform digital.
Agar mudah di kenali, perlu juga membuat narasi kreatif yang menghubungkan Smara Jantra dengan mitos lokal atau filosofi Bali. “Misalnya: smara artinya cinta; jantra artinya harmoni energy yang mesti sampai kepada wisatawan,” imbuhnya.
Termasuk pula menampilkan dalam kanal YouTube pariwisata, event digital pariwisata Bali atau kolaborasi dengan Bali Tourism Board dan organisasi kepariwisataan sebagai langkah untuk mempromosikan atraksi seni itu secara lebih luas.
Namun, hal yang tidak kalah pentingnya adalah membuat jadwal reguler dan kolaboratif, seperti menetapkan pementasan reguler di titik-titik wisata Legian, melakukan kolaborasi dengan hotel atau beach club yang mempunyai panggung budaya.
[irp]
Termasuk menjadikan sebagai penampil utama dalam event tahunan, seperti Legian Beach Festival, Kuta Karnival atau Bali Arts Festival (Bulan Bahasa Bali). Dalam pelaksanaannya, tentu melibatan masyarakat adat dan pemuda local.
“Melibatkan sekaa teruna-teruni dan sanggar seni lokal dalam regenerasi tari, dan melakukan pelatihan koreografi dan produksi seni berbasis desa, sehingga keberlanjutan karya tetap hidup dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat local,” ungkapnya.
Garapan tari dengan pendekatan koreografi lingkungan
Malam itu, Kadek Ayu Diah Mutiara Dewi mementaskan garapan seni bertajuk “Smara Jantra” yang disaksikan oleh masyarakat Legian dan sekitarnya. Termasuk wisatawan mancanegara yang ikut berdesak-desakan.
Tari kontemporer ini mulai dipentaskan di area Jaba Tengah Pura Agung Desa Adat Legian, lalu kedua pentas di jalan raya menghadap selatan serta diseberang jalan yang merupakan jaba sisi pura sekaligus wilayah yang dikenal sebagai “genah masolah” (ruang pentas).
[irp]
Di area Jaba Tengah Pura (bagian pertama), menampilkan ibu-ibu Desa Adat Legian memendet yang sudah ada sejak dulu sebagai simbol penghormatan, pengabdian, dan wujud rasa syukur masyarakat, memperkuat kesan autentik dan memberi bobot sejarah dalam struktur pertunjukan karya.
Di area ini menggambarkan masa sebelum kehadiran Tari Telek di Legian. Ritual mepajar yang berlangsung di wilayah pura, khususnya di area jaba tengah. Satu sosok figur Telek bersama enam penari sesandaran yang menari menggambarkan suasana spiritual penuh ketenangan dan kekhidmatan.
Gerak tarinya sederhana, seperti ngeliput, ngeteb, dan mekecos yang tentutnya dipilih secara selektif dan dihadirkan secara repetitif dengan tempo yang lambat. Gerak itu seakan memperkuat dimensi meditasi dan kekhusyukan, menekankan bagian ini berada pada tingkatan wali (sacral).
Di sini, tari ini diringi gamelan bebarongan yang dimainkan secara tradisional, tanpa tambahan unsur digital. Hal itu seakan mempertegas suasana orisinalitas dan kemurnian nilai budaya.
[irp]
Bagian kedua, di jalan raya menunjukkan fase transisi dan perkembangan Tari Telek Legian menuju bentuk profan. Bagian ini, mengisahkan Telek mulai berkembang secara fungsi dan penyajian. Perubahan yang paling nyata terjadi pada struktur penyajiannya, komposisi gerak dan perubahan peran gender dari penari laki-laki ke penari perempuan.
Penyajian merepresentasikan keterbukaan terhadap pengaruh luar dan dinamika zaman. Komposisi gerak disusun lebih dinamis dan kompleks, menghadirkan pola-pola seperti rampak, canon, dan alternit, yang menggambarkan kehidupan sosial modern yang lebih beragam.
Iringan musik diperkaya dengan teknologi MIDI, menandai perjumpaan antara bunyi tradisi dan inovasi digital. Formasi tari tidak lagi berpola hirarkis, melainkan lebih fleksibel, memperlihatkan semangat zaman yang lebih setara dan adaptif sebagai fase bebali atau profane.
Bagian terakhir, di seberang jalan, merupakan puncak narasi yang menyampaikan pesan pemuliaan terhadap Telek Desa Adat Legian sebagai identitas budaya yang tetap hidup dan relevan. Eksplorasi gerak dilakukan dengan menggali kedalaman simbol yang terkandung dalam perjalanan Tari Telek.
[irp]
Gerak tubuh sebagai alat ekspresi non-verbal menyuarakan pentingnya menjaga kesinambungan warisan budaya. Narasi dalam bagian ini tidak linier, justru disusun secara kontemplatif untuk mengajak penonton merenungkan nilai-nilai spiritual dan kultural yang melekat pada tari Telek itu.
Babak ini menandai tahap balih-balihan atau kekinian. Tradisi diolah menjadi refleksi dan kritik terhadap zaman. Meskipun bentuk dan penyajiannya telah mengalami banyak perkembangan, namun Telek ini tetap harus dihormati sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi. [buda]


