Destinasi

Gianyar Punya Destinasi Baru! Museum Subak Masceti Dihidupkan

GIANYAR, balitourismnow.com – Jika pernah ke Pantai Masceti, pasti tahu Museum Subak Masceti. Museum yang menyimpan pengetahuan tentang budaya agraris itu akan dihidupkan. Masyarakat, siswa atau wisatawan bisa mengunjungi museum yang ada sejak 2017 itu.

“Museum Subak Masceti diproyeksikan menjadi satu-satunya museum yang berfokus pada aktivitas pertanian berbasis Subak,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Adi Parbawa dalam acara Pra-Aktivasi Museum Subak Masceti Kabupaten Gianyar Minggu 7 Desember 2025.

Acara yang dihadiri oleh para pejabat terkait di Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Gianyar, tokoh dan masyarakat itu diisi dengan Tur Museum Subak Masceti, mengunjungi Rumah Adat Petani Bali dan diskusi agar benar-benar menjadi pusat edukasi tentang sistem irigasi tradisional.

“Pra-Aktivasi Museum Subak Masceti untuk menandai fase baru dalam upaya menghidupkan kembali museum, serta menjadi ajang untuk meninjau langsung kesiapan ruang pamer, menguji pengalaman pengunjung, dan menyempurnakan konsep kuratorial sebelum dibuka secara resmi,” ucapnya.

BACA JUGA:  Fight for a Cure: 40 Petarung Berkumpul di Nuanu Creative City

Museum Subak Masceti hadir membawa semangat untuk menempatkan sistem Subak—yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO—dalam konteks yang lebih luas dan relevan dengan kehidupan hari ini.

Ketungan salah satu koleksi di Museum Subak Masceti/Foto: buda

Sebagai sistem irigasi tradisional Bali, Subak bukan sekadar metode pengelolaan air, melainkan ekosistem sosial, ekologis, spiritual, dan budaya yang telah menopang kehidupan masyarakat Bali selama berabad-abad.

“Program Kajian Museum Subak Masceti dan Penataan Koleksi Lantai Atas menjadi dua langkah awal yang penting untuk memastikan museum ini memiliki arah kuratorial yang kuat serta tata kelola yang lebih rapi dan professional,” terangnya.

Pra-Aktivasi yang dilakukan sebagai program penutup museum akhir tahun ini kemudian menjadi kesempatan nyata untuk mengidentifikasi kekurangan, merespons kritik, serta mengundang kolaborasi publik.

BACA JUGA:  Genius City, Kawasan Khusus di Nuanu Fokus pada Edukasi

Hidupnya museum ini, Gianyar menegaskan kembali, warisan budaya bukan sekadar sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang harus dirawat, sehingga dapat menjadi ruang interaksi berbagai kelompok, mulai dari anak-anak, generasi muda, petani, akademisi, dan wisatawan untuk belajar tentang Subak secara utuh dan kontekstual.

Mengenal koleksi Museum Subak Masceti

Usai sambutan itu, seluruh peserta kemudian mengikuti agenda Tur Museum Subak Masceti, yang akan dipandu oleh Wayan Sumahardika dan Dewa Gede Yadhu Basudewa, sebagai Kurator Museum Subak Masceti.

Koleksi museum terletak di lantai dua yang menyajikan beberapa diorama, gambaran subak yang ada di Gianyar dan Bali umumnya. Diorama ini dibatasi kaca, sebagai pembatas pengunjung dengan koleksi yang ada.

Sementara berbagai alat tradisional yang biasa digunakan oleh para petani jaman dulu dipajang di dekat tembok dan area ruangan. Berbagai alat pertanian tradisional itu diantaranya, tenggala, sanan, ketungan lengkap dengan luhu, lesung, arit, madik beruk, tambah, lampit, dan lainnya.

BACA JUGA:  ITDC Raih 4 Penghargaan Bidang Keberlanjutan Ditingkat Nasional dan Asia

Peserta kemudian diarahkan ke luar gedung menyaksikan landscape museum yang belum tertata dengan baik. Sawah basah yang dibuat, justru menjadi sawah kering (subak abian). Namun, patung dua sapi yang membajak sawah masih kuat dengan ceritanya.

Tur kemudian berlanjut ke Rumah Adat Petani Bali lengkap dengan bangunan Bali sesuai dengan tata ruang tradisional Bali. Rumah adat itu dilengkapi dengan berbagai peralatan memasak tempo dulu, termasuk berbagai tanaman yang ada.

“Lancape sawah ini akan menjadi lokasi kegiatan outdoor untuk komunitas anak-anak, pentas dan kegiatan seni budaya lainnya. Rumah adat Bali bisa sebagai kegiatan workshop, khususnya tentang subak dan budaya agraris,” ujar Wayan Sumahardika.

Potensi Museum Subak Masceti

Sesi diskusi “Potensi dan Pengembangan Museum Subak Masceti” menghadirkan tiga pembicara, yaitu Wayan Sumahardika dan Dewa Gede Yadhu Basudewa, sebagai Kurator Museum Subak Masceti serta I Wayan Supertama dari Disbud Gianyar dan dipandu oleh Santi Dewi sebagai moderator.

BACA JUGA:  Petani Kopi Robusta di Desa Pujungan: Embrio Agro Tourism, Diminati Wisman Asal Prancis

Wayan Supertama membuka diskusi dengan kisah berdirinya museum. Keberadaan museum ini realisasinya sangat panjang. Kabupaten Gianyar, daerah yang mendapatkan konsep Tri Hita Karana landscape Bali, sehingga menjawab dengan mendirikan museum ini.

Perencanannya sejak tahun 2012, pembangunan pondasi 2014, dan 2017 menjadi museum. Pada 2018 melengkapi dengan landscape berupa miniatur subak, dan rencana launching 2019, namun ada Covid-19, maka terbengkalai.

Dewa Gede Yadhu Basudewa mengatakan, konten yang disajikan lebih informative, seperti yang ada di Museum Subak Tabanan. Lebih pada menampilkan alat-alat petanian subak abian dan basah.

Potensi Museum Masceti ini memiliki lokasi strategis, di sisi timur muara Tukad Pakerisan, dan di sisi barat Tukad Petanu. Museum ini merupakan muara dari peradaban kuno. “Maka potensinya adalah adat-istiadat, ritus atau ritual serta aktivitas keagamaan, termasuk manuskrip,” jelasnya.

BACA JUGA:  ITDC Perkuat Tata Kelola Bersih Destinasi Wisata The Golo Mori dengan Mempertahankan Sertifikasi ISO 37001:2016, SMAP

Potensi itu tidak hanya berupa alat, tetapi seni sebagai potensi, baik itu seni tari, tabuh, tembang, permainan. Kalau potensi bangunan, Museum Subak Masceti sebagai muara atau teben, dan ulunya ada di Tampak Siring. Termasuk memiliki potensi adat, dan bahasa lisan.

Sumahardika kemudian memaparkan perbedaan Museum Subak Masceti dengan museum yang lain. Namun, karena masih tahap aktivasi, maka perbedaan dan persamaan itu menjadi PR semua. Ada tiga poin penting yang bisa menjadi kekhasan Museum Subak Masceti.

Pertama letak geografis Museum Subak Masceti sangat menarik, yakni sebagai bentuk pengetahuan semua subak di Gianyar. Ketika membuka pintunya, maka pengunjung sudah dapat melihat laut.

Di sekitarnya terdapat sawah dan panorama gunung, sehingga secara geografis terdapat gunung, sawah dan laut. “Berbeda dengan pembangunan museum lain yang mungkin tidak mempertimbangkan letak geografis seperti ini,” paparnya.

BACA JUGA:  The Nusa Dua Punya ‘Holy Ramadhan’, Sambut Nyepi & Berkah Ramadhan dalam Harmoni

Di luar negeri, museum menceritakan masa lalu. Itu karena berada di tengah kota yang tidak memiliki bacaan georgafis potensial. “Kalau di Museum Subak Masceti, tidak perlu ngomong besar, tetapi lokasinya sudah bebicara besar, yakni nyegara gunung, sawah dan laut,” tegasnya.

Kedua Museum Subak Masceti memiliki ruang sosial, ruang dimana anak-anak sekolah setiap semester ada saja yang mengunjungi museum ini. Jarang ada museum yang belum dibuka, tetapi sudah dikunjungi.

Di saat desa adat melakukan melasti, museum ini menjadi perlintasan upacara adat untuk melakukan ritus, sehingga ini yang juga membedakan dengan keberadaan museum yang lain.

Ketiga, kawasan museum ini menjadi kawasan pantai yang sering dijadikan tempat nongkrong oleh anak-anak muda. Mereka nngkrong sambil menikmati kopi di tepi pantai, sehingga museum ini mempunyai cukup ruang.

BACA JUGA:  The Mandalika Tingkatan Keterampilan Para Tenaga Operation dan Services

Museum ini tak hanya menyimpan benda atau objek yang mati, tetapi justru menyimpan hal-hal yang masih hidup sampai saat ini. Semua itu, membuat orang bisa konek dengan aktivitas museum. [buda]

Shares: