GIANYAR, balitourismnow.com – Bali yang menjadi tujuan wisata dunia, mesti sudah memikirkan pentingnya penataan lighting. Pencahayaan itu tak hanya untuk menerangi, tetapi juga berdampak pada psikologis, hormon manusia hingga kelestarian lingkungan.
Karena itu, Enlightened Bali 2026 kembali digelar pada 13–16 Agustus 2026 bertempat di Big Garden Corner Denpasar. Festival yang mengangkat tema ‘PASAR Malam’ akan menjadi ajang edukasi yang akan isu masa depan industri lighting, polusi cahaya, dan edukasi pencahayaan.
“Festival ini menjadi ruang kolaborasi bagi desainer, arsitek, seniman, mahasiswa hingga komunitas untuk mengeksplorasi masa depan pencahayaan melalui pendekatan seni, budaya dan edukasi,” kata Creative Head of Enlightened Bali, Diva Anadria dalam media gathering di Masa Masa, Sukawati, Kamis 21 Mei 2026.
Penataan lighting yang tepat bukan sekadar penerangan, melainkan alat pemasaran visual. Pencahayaan yang estetis mampu menciptakan daya tarik emosional, mengubah suasana tempat wisata di malam hari, dan mendorong wisatawan untuk berswafoto.
Diva Anadria mengatakan, konsep pasar malam dipilih karena dekat dengan budaya Indonesia sebagai ruang interaksi dan ekspresi masyarakat. Festival ini menghadirkan pengalaman yang memadukan edukasi, budaya, hiburan, dan eksplorasi cahaya dalam suasana yang hangat.
PASAR Malam merupakan pendekatan strategis menjadi kunci strategis. “Manusia sering kali berpikir bahwa mereka membuat keputusan secara rasional, padahal industri hospitality itu sepenuhnya tentang emosi,” ujarnya.
Sebelum tamu mengingat makanan atau perabotan yang ada, mereka akan mengingat bagaimana ruang tersebut membuat mereka merasa nyaman. Pencahayaan menguasai sebagian besar dari pengalaman tak kasat mata itu.
“Maka, melalui atmosfer PASAR Malam, kami menciptakan sebuah ekosistem tempat ide, teknologi, bisnis, dan koneksi manusia bertabrakan secara alami agar percakapan yang mengubah praktik industri ini bisa lahir dari ruang yang intim dan penuh makna,” jelasnya.
PASAR Malam ini akan menghadirkan lighting professional, arsitek, operator hospitality, dan pelaku industri kreatif dari Inggris, Singapura, Jepang, Australia, juga berbagai negara Asia lainnya. Mereka membawa perspektif global serta studi kasus nyata ke dalam dialog bersama komunitas desain Indonesia.
Sejumlah brand internasional seperti anchor brand mLight Illumination Engineering, bersama PROLICHT, ModuleX, CASAMBI, Helvar, WAC Lighting, DUA Lighting, dan berbagai partner lainnya telah berkomitmen penuh mendukung gerakan ini.
Kolaborasi masih terbuka lebar bagi hospitality group, developer, manufaktur, studio desain, maupun institusi kreatif yang percaya bahwa masa depan sebuah ruang tidak lagi hanya ditentukan oleh apa yang dibangun, tetapi oleh apa yang dirasakan manusia di dalamnya.
“Karena pada akhirnya, manusia tidak selalu mengingat detail sebuah ruang. Mereka mengingat suasananya. Mereka mengingat rasanya. Dan lebih sering daripada yang disadari banyak orang, rasa itu dimulai dari cahaya,” tegas Diva Anadria.
Krisis desainer lighting
Banyak yang tidak menyadari, mengapa sebagian ruang terasa hidup, sementara sebagian lainnya hanya terlihat indah di foto. Perbedaannya sering kali bukan terletak pada seberapa mahal materialnya, seberapa besar bangunannya, atau seberapa ikonik arsitekturnya.
Direktur Dua Lighting sekaligus Co-Founder of Enlightened Bali Robby Permana Mannas mengatakan, perbedaannya ada pada bagaimana ruang itu membangun rasa, dan sebagian besar rasa itu dibentuk oleh cahaya. Hingga hari ini, pencahayaan masih terlalu sering hadir di tahap akhir pembangunan.
“Berdasarkan estimasi kolektif praktisi industri, sekitar 85 persen bangunan di Indonesia masih dibangun tanpa keterlibatan profesional pencahayaan, sebuah blind spot besar yang mereduksi fungsi cahaya sekadar sebagai penyesuaian teknis belaka, bukan sebuah visi desain yang utuh,” ujarnya.
Enlightened Bali 2026 bukan hanya sebagai event industri, tetapi sebagai ruang pertemuan antara desain, teknologi, budaya, bisnis, dan pengalaman manusia. Sebuah gerakan bahwa lighting bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan bagian dari bagaimana sebuah ruang berbicara kepada manusia.
Robby mengatakan, pencahayaan memiliki kekuatan untuk mengangkat atau justru menghancurkan sebuah proyek pengembangan. Ia berperan langsung terhadap kualitas pengalaman manusia di dalam sebuah bangunan, baik bagi pengguna ruang maupun pekerja di dalamnya.
“Solusinya adalah membangun pemahaman kolektif bahwa lighting adalah investasi fundamental yang nyata, bukan pelengkap di akhir proyek,” sebutnya.
PASAR Malam dipilih sebagai tema karena ia merepresentasikan sesuatu yang sangat dekat dengan budaya Asia: ruang yang hidup, hangat, sosial, dan penuh emosi. Sebuah tempat di mana manusia berkumpul bukan hanya untuk melihat sesuatu, tetapi untuk merasakan sesuatu.
Bagi Enlightened Bali, pendekatan itu penting karena industri kreatif hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang estetika visual, tetapi tentang bagaimana ruang memengaruhi perilaku, suasana hati, hingga memori manusia.
Founder & Direktur Lumina Group serta Co-Founder of Enlightened Bali, Abdi Ahsan, menjelaskan esensi utama dari argumen ini. Enlightened Bali bukan sekadar sebuah acara. Ini sebuah argumen terstruktur bahwa cahaya layak mendapatkan posisi yang berbeda dan lebih terhormat dalam proses desain.
Melalui kesadaran komersial yang dibalut kehangatan kultural ini, gerakan ini dirancang untuk mempertemukan para lighting designer, arsitek, interior designer, developer, operator hospitality, hingga pelaku teknologi dalam satu percakapan yang lebih relevan.
“Kami sedang membangun sebuah platform tempat argumen itu disampaikan secara gamblang di depan semua pihak yang paling menentukan arah industri masa depan,” pungkas Abdi Ahsan. [buda]


