Life style

Mahasiswa PNB Dampingi Pengelola Kos di Dauh Puri Kaja Tingkatkan Kualitas Layanan.

DENPASAR, balitourismnow.com – Istilah akomodasi kerap identik dengan hotel berbintang, resor mewah atau vila untuk berlibur. Padahal, rumah indekos juga merupakan salah satu bentuk akomodasi yang berperan penting dalam menopang kehidupan masyarakat, terutama mahasiswa dan pekerja yang merantau. Di Desa Dauh Puri Kaja, Denpasar Utara, keberadaan rumah indekos bahkan menjadi bagian dari dinamika perubahan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

Kondisi ini membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, termasuk pemilik rumah yang mengalihfungsikan sebagian huniannya menjadi indekos. Namun, pertumbuhan rumah indekos juga menghadirkan sejumlah tantangan apabila tidak dikelola dengan baik. Persoalan yang berpotensi muncul antara lain konflik sosial, kebisingan, pengelolaan sampah, keamanan, minimnya interaksi sosial, hingga kurangnya kepedulian penghuni terhadap lingkungan sekitar.

Berangkat dari kondisi tersebut, Kelompok Sienergy, mahasiswa Program Studi D-IV Manajemen Bisnis Pariwisata, Jurusan Pariwisata, Politeknik Negeri Bali (PNB) angkatan 9, menggagas Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) bertajuk “Smart Hospitality Boarding House”. Program yang mengusung pendekatan Transfer of Professional Knowledge ini menyasar para pemilik rumah indekos di Desa Dauh Puri Kaja. Kegiatan tersebut dibuka di Kantor Desa Dauh Puri Kaja pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Ketua Panitia, I Putu Adi Ardana mengatakan, program ini bertujuan mentransformasikan usaha rumah indekos menjadi akomodasi yang lebih profesional, berkualitas, berkelanjutan, dan berbasis komunitas. Selain meningkatkan kualitas pengelolaan usaha, program ini diharapkan dapat membantu menjawab berbagai persoalan sosial dan lingkungan dengan tetap memperhatikan nilai-nilai budaya setempat.

“PKM-PM ini bertujuan mentransformasi bisnis rumahan indekos menjadi akomodasi yang lebih profesional, berkualitas tinggi, berkelanjutan, dan berbasis komunitas, sekaligus membantu mengatasi berbagai permasalahan di tingkat desa dari segi kualitas usaha, sosial, dan budaya setempat,” kata Adi Ardana.

Mahasiswa Program Studi D-IV Manajemen Bisnis Pariwisata, Jurusan Pariwisata, Politeknik Negeri Bali menggelar PKM-PM bertajuk Smart Hospitality Boarding House di Desa Dauh Puri Kaja/Foto: buda

Program PKM-PM Kelompok Sienergy tahun ajaran 2026/2027 ini mengangkat tema Penguatan Kapasitas Pengelola Rumah Indekos melalui Hospitality Management, Digital Marketing, dan Pengelolaan Usaha Berkelanjutan untuk Meningkatkan Nilai Ekonomi dan Sosial Masyarakat Desa Dauh Puri Kaja, Denpasar Utara.

Tema tersebut dipilih dengan mempertimbangkan perkembangan kawasan perkotaan, mobilitas penduduk, serta meningkatnya kebutuhan hunian bagi mahasiswa, pekerja, dan masyarakat pendatang. Kondisi ini memberikan peluang ekonomi bagi warga yang mengelola rumah indekos.

Meski demikian, pengelolaan indekos tidak sebatas menyediakan kamar dan menerima uang sewa setiap bulan. Ada berbagai aspek yang perlu diperhatikan, mulai dari pelayanan, kebersihan, keselamatan, pengelolaan keuangan, pemasaran, hingga hubungan antara penghuni dan masyarakat sekitar.

“Kami memandang pemilik rumah indekos sesungguhnya telah menjalankan usaha akomodasi dalam skala mikro. Oleh karena itu, pengalaman dan kompetensi profesional di bidang pariwisata dan perhotelan yang dimiliki anggota kelompok kami diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi para pemilik indekos,” ujarnya.

Adi Ardana menegaskan, program tersebut tidak berangkat dari anggapan bahwa masyarakat belum memiliki kemampuan dalam mengelola usaha. Sebaliknya, para mahasiswa ingin belajar dari pengalaman masyarakat, memahami kebutuhan mereka, sekaligus berbagi pengetahuan profesional yang relevan dan dapat diterapkan sesuai dengan kondisi masing-masing usaha.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, program ini berfokus pada sejumlah aspek, yakni peningkatan pelayanan dan penerapan prinsip hospitality, tata graha (housekeeping) dan keselamatan, pemasaran digital, pengelolaan harga dan pendapatan, manajemen keuangan, serta penerapan praktik usaha yang lebih ramah lingkungan. Rangkaian kegiatan direncanakan berlangsung selama Oktober hingga November 2026.

Pelaksanaannya mencakup sosialisasi, survei dan pendampingan rumah indekos, pelatihan, pendampingan implementasi, serta evaluasi. Pemilik rumah indekos menjadi sasaran utama program, dengan pendekatan pendampingan yang memungkinkan tim memahami kebutuhan setiap peserta secara lebih mendalam.

Melalui kegiatan ini, tim menargetkan tersusunnya basis data awal dan identifikasi kebutuhan rumah indekos peserta. Selain itu, program diharapkan menghasilkan prosedur operasional standar (SOP) dasar dan daftar periksa keselamatan yang dapat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari, sekaligus mendorong peningkatan pemanfaatan media digital dan penerapan praktik usaha ramah lingkungan.

Ketua Jurusan Pariwisata PNB, Dr. Made Satria Pramanda Putra, mengatakan program tersebut merupakan inisiatif mahasiswa yang memiliki pengalaman di industri pariwisata dan memilih untuk mengabdikan pengetahuan mereka kepada masyarakat Desa Dauh Puri Kaja.

Menurutnya, keberadaan rumah indekos menjadi salah satu fenomena perkotaan yang menarik untuk dikembangkan melalui pendekatan kepariwisataan. Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman di bidang tourism, para mahasiswa berupaya membantu usaha indekos agar dapat berkembang dan dikelola secara lebih profesional.

“Mereka melihat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ini memiliki peluang untuk naik kelas. Perbaikannya bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti penerapan SOP, kebersihan, keamanan, keselamatan, promosi, dan aspek lainnya,” ujarnya.

Ia menyadari bahwa program tersebut tidak serta-merta dapat menyelesaikan seluruh persoalan yang ada. Namun, edukasi dan pendampingan secara bertahap dinilai dapat menjadi langkah awal untuk membangun pengelolaan usaha yang lebih baik. Meskipun berskala UMKM, rumah indekos tetap dapat menerapkan standar operasional, pengelolaan limbah, dan praktik usaha yang bertanggung jawab.

Satria Pramanda Putra menambahkan, penerapan nilai-nilai pariwisata berkelanjutan sejalan dengan komitmen PNB sebagai kampus yang mengembangkan konsep green tourism. Program pengabdian kepada masyarakat semacam ini juga menjadi kegiatan rutin yang melibatkan mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) sebagai bagian dari persyaratan kelulusan mereka.

Selain pengelolaan rumah indekos, Jurusan Pariwisata PNB juga menjalankan berbagai program pelatihan dan optimalisasi potensi masyarakat, termasuk pengembangan desa wisata. Pengalaman para mahasiswa yang telah berkecimpung selama sekitar 20–23 tahun di industri pariwisata dapat menjadi bekal berharga untuk dibagikan kepada masyarakat. “Kami berharap, berbagai program tersebut dapat terus berlanjut dan memberikan dampak nyata bagi pengembangan usaha di tingkat local,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Dauh Puri Kaja, I Gusti Ketut Sucipta, ST, menyampaikan apresiasi kepada PNB atas pelaksanaan program PKM-PM yang dinilai dapat membantu mengembangkan potensi ekonomi masyarakat desa.

Ia menilai keterlibatan mahasiswa yang memiliki pengalaman di bidang hospitality dapat memberikan manfaat bagi warga, khususnya dalam meningkatkan kualitas pengelolaan rumah indekos agar menjadi usaha yang lebih produktif dan memberikan nilai tambah ekonomi.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya dilaksanakan tahun ini, tetapi dapat berkelanjutan sehingga program yang diberikan benar-benar terserap oleh masyarakat desa kami. Ke depan, mungkin bisa dikembangkan pula program untuk UMKM lain yang membutuhkan peluang pengembangan usaha,” harapnya.

Sucipta menambahkan, edukasi mengenai pengelolaan rumah indekos yang nyaman, ramah lingkungan, serta memperhatikan keamanan dan keselamatan penghuni sangat dibutuhkan. Selama ini, sebagian rumah indekos masih dikelola secara konvensional dan belum sepenuhnya mempertimbangkan aspek keberlanjutan.

]Melalui program tersebut, ia berharap masyarakat memperoleh gambaran yang lebih baik mengenai tata kelola indekos, mulai dari kebersihan, kenyamanan, keamanan, hingga kualitas pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan penghuni. “Harapannya, masyarakat bisa mengelola tempat kos dengan harga terjangkau, tetapi tetap memberikan pelayanan berkualitas, seperti kaki lima dengan pelayanan bintang lima,” ujarnya.

Menurut Sucipta, terdapat lebih dari 100 rumah indekos di Desa Dauh Puri Kaja dengan beragam segmen penghuni. Sebagian indekos menyasar pekerja sektor informal, sementara lainnya diperuntukkan bagi kalangan pekerja profesional, termasuk karyawan hotel. Rumah indekos untuk segmen menengah ke atas juga tersedia, baik yang dimiliki warga lokal maupun pendatang. Adapun pengawasan rumah indekos di desa tersebut berada di bawah naungan banjar dinas.

Selain pengelolaan rumah indekos, Sucipta menilai UMKM di Desa Dauh Puri Kaja juga membutuhkan dukungan pemasaran agar mampu mengikuti perkembangan teknologi informasi dan perubahan zaman. Sejumlah anak muda telah mengembangkan usaha kuliner, seperti dimsum dan nasi jinggo, yang berpotensi terus berkembang apabila didukung strategi pemasaran yang tepat.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 15.000 jiwa yang sebagian besar bekerja sebagai pedagang, Desa Dauh Puri Kaja memiliki potensi ekonomi lokal yang perlu terus dikembangkan. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa, program pendampingan seperti Smart Hospitality Boarding House diharapkan tidak hanya meningkatkan profesionalisme pengelolaan rumah indekos, tetapi juga memperkuat hubungan sosial, kepedulian lingkungan, dan keberlanjutan usaha masyarakat setempat. [buda]

Shares: